Pelabuhan Parepare dan Janji Ekonomi yang Belum Tuntas
Rekor arus logistik Pelabuhan Nusantara Parepare semestinya disambut dengan optimisme yang terukur, bukan euforia. Angka bongkar muat yang menanjak memang menandakan pulihnya kepercayaan pelaku usaha terhadap simpul logistik di pesisir barat Sulawesi Selatan. Namun pertanyaan yang lebih penting adalah: seberapa besar nilai tambah dari arus barang itu yang benar-benar mengendap di ekonomi kota?
Selama ini Parepare lebih banyak berperan sebagai jalur lintas — barang masuk, lalu segera diteruskan ke daerah pedalaman Ajatappareng dan sekitarnya. Pola transit murni semacam ini menghasilkan penerimaan terbatas: retribusi, jasa bongkar muat, dan segelintir lapangan kerja informal. Padahal potensi sesungguhnya ada pada hilirisasi: pergudangan modern, pengemasan ulang, jasa logistik bernilai tinggi, dan industri pengolahan yang menumpang pada arus komoditas.
Rencana Pemkot membuka kawasan pergudangan baru adalah langkah ke arah yang benar, asalkan tidak berhenti sebagai proyek properti. Kawasan itu harus dirancang sebagai ekosistem — terhubung dengan akses jalan yang memadai, insentif bagi UMKM pengolah, dan kepastian tata ruang yang tidak berubah setiap pergantian kepemimpinan. Tanpa itu, gudang hanya akan menjadi bangunan kosong yang menunggu penyewa.
Saya mengusulkan tiga prasyarat. Pertama, transparansi rencana induk agar investor dan warga memahami arah jangka panjang. Kedua, pelibatan pelaku ekonomi lokal sejak tahap perencanaan, bukan sekadar undangan seremonial. Ketiga, indikator keberhasilan yang jujur — bukan sekadar tonase, melainkan jumlah tenaga kerja terserap dan kontribusi terhadap pendapatan asli daerah. Pelabuhan yang ramai bukan tujuan akhir; ia hanya bermakna jika menjelma menjadi kesejahteraan yang dirasakan warga Bacukiki.