Tana Toraja — Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Luwu Utara terus memperkuat langkah-langkah strategis dalam upaya mengendalikan inflasi daerah. Salah satunya hadir langsung dalam pada High Level Meeting (HLM) dan Capacity Building Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sulawesi Selatan Zona V Tahun, Selasa (22/9/2026).
Kegiatan HLM 2026 ini berlangsung di Ruang Pola Kantor Bupati Tana Toraja dengan mengusung pendekatan berbasis zona guna memperkuat sinergi kebijakan pengendalian inflasi di Sulsel. Dari Pemda Lutra, hadir mewakili Bupati, Plt Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Muhammad Kasrum, dan didampingi dari Dinas Pertanian, dan DP2KUKM.
Dalam pemaparannya di hadapan peserta HLM Zona V yang meliputi Kota Palopo, Kabupaten Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur, Toraja Utara, dan Tana Toraja, Muhammad Kasrum membeberkan kondisi terkini di daerahnya. Ia mengatakan, sebagai wilayah non-IHK di Sulsel, Lutra mencatat kenaikan IPH 3,58% pada minggu ketiga September 2026.
Lonjakan tersebut, kata dia, didorong oleh kenaikan harga komoditas pangan strategis, terutama cabai rawit, cabai merah, dan telur ayam ras. “Faktor utama yang memengaruhi kenaikan harga pangan adalah kondisi iklim, khususnya saat kemarau panjang akibat adanya fenomena El Nino yang sudah berlangsung cukup lama ini,” ungkap Kasrum.
“Hal ini tentunya sangat berdampak langsung terhadap ketersediaan air pertanian yang makin berkurang, sehingga menurunkan produktivitas pertanian kita, hingga akhirnya memicu potensi terjadinya puso alias gagal panen,” ungkap Muhammad Kasrum, yang didampingi oleh perwakilan dari Dinas Pertanian dan DP2KUKM Kabupaten Luwu Utara.
Melihat persoalan ini, Pemda Lutra tidak tinggal diam dalam menghadapi tantangan tersebut, dan langsung bergerak cepat dengan menggulirkan berbagai program intervensi nyata demi menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan di tengah-tengah masyarakat. Akhirnya, sejumlah langkah nyata nan taktis disiapkan Pemda Kabupaten Luwu Utara.
Beberapa di antaranya adalah penyaluran bantuan benih padi, benih jagung, mesin combine harvester, dan vertical dryer guna menunjang produktivitas petani. Termasuk melakukan kegiatan optimalisasi pemanfaatan lahan pekarangan, serta penyaluran bantuan khusus untuk desa rawan pangan guna mengantisipasi terjadinya krisis pangan.
Tidak kalah pentingnya, Kasrum mengungkapkan bahwa pendirian kios pangan serta pelaksanaan gerakan pangan murah yang dilakukan secara berkala guna memangkas rantai pasok dan menjaga stabilitas harga. Melalui sinergi antarwilayah ini, Pemda Lutra optimistis stabilitas harga pangan segera pulih dan daya beli warga tetap terjaga dengan baik. (LHr)
