MAROS — Sebanyak 410 peserta didik UPTD SMP Negeri 5 Mandai mengikuti kegiatan nonton bareng film Akal Imitasi di bioskop Grand Mall, Kamis (22/10/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari penguatan pendidikan karakter sekaligus pembelajaran di luar kelas.
Kepala UPTD SMP Negeri 5 Mandai, Dahniar, mengatakan kegiatan tersebut berawal dari sosialisasi yang difasilitasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Maros. Sosialisasi itu diikuti kepala sekolah jenjang TK/PAUD, SD, dan SMP, baik negeri maupun swasta.
Dalam wawancara melalui telepon, Kamis (22/10/2026), Dahniar menjelaskan bahwa sosialisasi tersebut memberikan kesempatan kepada kepala sekolah untuk menilai terlebih dahulu kelayakan film sebelum merekomendasikannya kepada peserta didik.
“Ajakan nonton ini sebagai sosialisasi kepada kepala sekolah terlebih dahulu selaku penentu kebijakan yang berhak menilai layak atau tidaknya sebuah film dipertontonkan kepada siswa,” ujar Dahniar.
Setelah menyaksikan film tersebut, Dahniar menilai Akal Imitasi layak ditonton peserta didik karena mengangkat persoalan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam dunia pendidikan.
Menurutnya, salah satu pesan yang relevan dari film tersebut adalah bahwa perkembangan AI tidak serta-merta menggantikan peran guru dalam proses pendidikan.
“Setelah menonton, saya menilai film tersebut memang layak ditonton oleh siswa,” katanya.
Film Menjadi Sarana Pembelajaran Karakter
Dahniar mengungkapkan, jumlah peserta didik UPTD SMP Negeri 5 Mandai mencapai 965 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 410 peserta didik mengikuti kegiatan nonton bareng.
Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak diwajibkan kepada seluruh peserta didik. Pihak sekolah hanya memberikan imbauan dan mendata peserta didik yang bersedia mengikuti kegiatan.
“Jadi, siswa saya yang menonton hanya 410 orang dari total 965 siswa. Mereka ikut karena bersedia. Kegiatan ini memang tidak kami wajibkan, kami hanya mengimbau,” ungkapnya.
Pendataan peserta dilakukan melalui sekolah sesuai mekanisme yang ditetapkan panitia. Peserta didik juga tidak dapat membeli tiket secara langsung di bioskop tanpa melalui proses pendataan tersebut.
Kegiatan nonton film itu sekaligus dirancang sebagai pembelajaran di luar kelas atau outing class. Melalui kegiatan tersebut, peserta didik diharapkan memperoleh pengalaman belajar dalam suasana yang berbeda sekaligus memahami pesan pendidikan yang disampaikan melalui film.
Lokasi bioskop Grand Mall yang relatif dekat dengan sekolah juga menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan kegiatan. Pihak sekolah mengarahkan orang tua untuk mengantar anak masing-masing ke lokasi. Sejumlah orang tua turut mendampingi anak selama kegiatan berlangsung.
Tiket Dibayar Peserta Sesuai Harga Bioskop
Terkait biaya, Dahniar menyampaikan bahwa setiap peserta membayar tiket sebesar Rp35.000. Ia menegaskan pihak sekolah tidak mengambil keuntungan dari pembayaran tersebut.
“Kami tidak mendapatkan keuntungan apa pun,” tegasnya.
Menurut Dahniar, biaya yang dibayarkan peserta sepenuhnya merupakan harga tiket bioskop. Adapun biaya tambahan hanya muncul apabila peserta memilih membeli makanan atau minuman secara mandiri.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat dipahami sebagai bagian dari upaya penguatan pendidikan karakter, bukan sekadar aktivitas menonton film di bioskop.
Surat edaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Maros yang ditandatangani Kepala Dinas, Andi Wandi B. Putra Patabai, menyebutkan bahwa kegiatan tersebut berkaitan dengan penguatan pendidikan karakter melalui film Akal Imitasi.
Surat tersebut menindaklanjuti surat PT Dinamika Lestari Ent. Nomor 026/DL-E/AI/X/2026 tertanggal 5 Oktober 2026.
Melalui kegiatan tersebut, sekolah diharapkan dapat memanfaatkan film sebagai sarana pembelajaran untuk menanamkan nilai-nilai karakter kepada peserta didik. Film Akal Imitasi sendiri mengangkat latar pendidikan di tengah perkembangan AI serta mempertanyakan nilai-nilai dalam proses belajar yang tidak dapat sepenuhnya digantikan teknologi.
Dengan demikian, kegiatan nonton bareng diharapkan tidak berhenti pada pengalaman menikmati film, tetapi menjadi ruang bagi peserta didik untuk memahami perkembangan teknologi sekaligus tetap menempatkan peran guru dan nilai-nilai kemanusiaan sebagai bagian penting dalam pendidikan.
(Syamsir)
