Arus informasi di era post-truth hari ini terus bergerak tanpa batas dan seakan tidak ada yang bisa menghentikan, di mana batas antara kebenaran dan kebohongan itu kian terasa kabur.
Berita bohong acapkali diglorifikasi sedemikian rupa hingga menyerupai kebenaran absolut demi kepentingan elektoral, kelompok, atau sekadar sensasi digital untuk menjatuhkan seseorang.
Akibatnya, ruang publik kita acapkali diwarnai oleh kegaduhan nalar kebangsaan yang dipenuhi caci maki, umpatan, ejekan, kebencian, dan budaya saling merendahkan antarsesama.
Di tengah dinamika sosial yang kian menantang saat ini, kehadiran para pemuda beserta remaja masjid dituntut untuk tetap bertransformasi melampaui batas-batas fisik tempat ibadah.
Nah, momentum Milad ke-49 BKPRMI menjadi titik tolak yang sangat relevan untuk meneguhkan kembali posisi strategis mereka sebagai garda terdepan untuk menjaga keutuhan bangsa.
Pemuda dan remaja masjid yang sangat lekat dengan literasi digital ini memiliki tanggung jawab moral dalam upaya membentengi masyarakat dari paparan informasi yang destruktif.
Untuk mencegah terjadinya paparan informasi yang destruktif, banyak hal yang mesti dilakukan melalui langkah-langkah yang lebih konkret, dan pastinya tidak sulit digerakkan bersama.
Tidak sulit bukan berarti semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan kesepahaman nalar yang bisa menggerakkan hati dan jiwa untuk bergerak bersama mencegah informasi hoaks.
Kita yang hidup di era post truth harus selalu melakukan yang namanya tabayyun digital, yaitu membudayakan tradisi verifikasi dan klarifikasi sebelum menyebarkan informasi di medsos.
Banyak di antara kita acapkali terjebak dalam pusaran informasi yang tidak jelas. Literasi berbasis nilai agama makin jauh dari jangkauan kita. Kita terjebak dalam ruang amarah yang menyala.
Hal ini menyebabkan kita sudah tidak lagi memiliki kemampuan untuk mengintegrasikan nilai-nilai kejujuran, keterbukaan, serta kecermatan dalam menggunakan teknologi informasi.
Hal ini diperparah oleh kurangnya diskursus publik untuk membuka ruang diskusi atau pelatihan literasi digital bagi masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh narasi-narasi provokatif.
Maka dari itu, pemuda dan remaja masjid haru bisa mengambil peran sebagai komunikator yang menyejukkan dan inklusif yang mampu meredam ketegangan dan kegaduhan di ruang publik.
Pemuda dan remaja masjid harus menciptakan bahasa yang lebih menyejukkan. Menghilangkan narasi kebencian dan menggantinya dengan bahasa yang santun di ruang publik digital kita.
Pemuda dan remaja masjid harus membuka ruang komunikasi yang luas tanpa memandang sekat perbedaan sosial, politik, maupun golongan, demi mempererat tali silaturahmi antarwarga.
Pemuda dan remaja masjid harus menjadi teladan yang nyata bahwa anak muda berbasis masjid adalah agen perubahan yang bisa membawa solusi, bukan menyumbang kegaduhan baru.
Di usianya yang sudah menginjak angka 49 tahun, bukanlah waktu yang singkat bagi organisasi sebesar BKPRMI untuk ikut membersamai perjalanan umat dan bangsa Indonesia ke depan.
Di usianya yang hampir setengah abad ini, BKPRMI telah banyak melahirkan jutaan kader tangguh yang tersebar di seluruh pelosok negeri, dan itu dengan mudah kita rasakan kehadirannya.
Kini saatnya pemuda dan remaja masjid untuk mengambil peran historis dalam mengembalikan muruah bangsa Indonesia yang lebih mengedepankan kesantunan dan keberadaban sosial.
Jadikan masjid sebagai episentrum positif yang memancarkan kesejukan ke setiap sudut republik ini. Selamat Milad ke-49 BKPRMI! Teruslah berkarya dan merawat nalar kebangsaan kita. (LHr)

