Perjalanan terjauh dalam hidup saya sebagai seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) menyimpan sejuta memori yang tidak lekang oleh ruang dan waktu. Pada medio Mei 2017 silam, langkah kaki saya menyeberang ke ujung barat Nusantara, tepatnya Aceh, Bumi Serambi Mekkah.
Sebagai eks Penyuluh Pertanian yang kemudian berlabuh kembali di Bagian Humas dan Protokol Setda Kabupaten Luwu Utara, tugas meliput kontingen Pekan Nasional (PENAS) KTNA XV 2017 di Kota Banda Aceh pada 6–11 Mei 2017 menjadi pengalaman jurnalistik paling berkesan.
Di awal pemberangkatan, bayangan di kepala saya dipenuhi kecemasan. Jarak ribuan kilometer yang memakan waktu penerbangan hingga lima jam, ditambah memori masa lalu tentang konflik Gerakan Aceh Merdeka (GAM), sempat membuat saya berpikir dua kali berangkat ke sana.
Meskipun “Perjanjian Helsinki” yang dimediasi oleh Wapres Jusuf Kalla kala itu telah lama merajut kedamaian indah, namun rasa "ketar-ketir" itu masih tetap ada. Percikan cerita masa lalu tentang Aceh membuat saya tidak bisa duduk tenang sepanjang pesawat membawa saya ke sana.
Namun, kekhawatiran itu runtuh seketika saat pesawat mendarat di Bandar Udara Sultan Iskandar Muda. Sambutan hangat petugas bandara dan keramahan warga setempat meruntuhkan rasa khawatir. Aceh jauh dari bayangan ngeri. Aceh wilayah yang kondusif dan menenangkan.
Saat tiba di Kota Banda Aceh, Kontingen PENAS Luwu Utara melakukan musyawarah dalam rangka untuk memastikan tempat pemondokan yang telah disiapkan panitia. Dalam pertemuan tersebut, saya membuat satu keputusan kecil yang membuat perjalanan saya begitu “fenomenal”.
Meskipun memiliki “privilese” atau hak istimewa untuk tinggal dan menginap di hotel bersama pejabat lainnya, saya malah memilih untuk tinggal bersama para petani Luwu Utara pada sebuah gampong (kampung) bernama Peunyeurat, Kecamatan Banda Raya, Kota Banda Aceh.
Keputusan ini lahir dari kerinduan masa lalu. Sebelum ditugaskan di Bagian Humas, saya terlebih dahulu mendedikasikan diri selama lima tahun sebagai Penyuluh Pertanian di wilayah Kelurahan Bone Tua Kecamatan Masamba (1 tahun) dan Desa Buangin Kecamatan Sabbang (4 tahun).
Ada perasaan yang sangat tenang saat saya satu atap pemondokan di rumah warga bersama para petani. Saya merasakan kembali kehangatan kekeluargaan yang dulu mendarah daging. Selama 9 hari di Banda Aceh, saya mendapat pemandangan kultural yang luar biasa bersama mereka.
Di Aceh, nuansa Islami begitu kental terasa. Ketika salat lima waktu tiba, seluruh aktivitas di Aceh berhenti seketika. Warung-warung tutup, toko-toko tutup, kantor-kantor tutup. Semua bergerak menuju masjid untuk melaksanakan salat wajib secara berjemaah di masjid-masjid terdekat.
Begitu lantunan azan menggema, tanpa komando, seketika umat muslim Aceh langsung bersiap melaksanakan salat di masjid. Saya pun merasakan langsung, saat saya menikmati kopi di sebuah warkop dekat pemondokan. Tak ada aba-aba, semua pengunjung berhenti, lalu ke masjid.
Di kota Aceh, para perempuan mengenakan busana yang tertutup. Saya tidak pernah melihat ada perempuan yang tidak berhijab. Pun saya tak pernah melihat ada perempuan yang memakai rok di atas mata kaki. Meski begitu, budaya lokal berjalan beriringan dengan toleransi yang tinggi.
Yang unik di Aceh adalah warung kopinya. Kota Banda Aceh memang dijuluki sebagai kota seribu warkop. Pemandangan paling hidup justru terjadi pada malam hari. Sepanjang jalan protokol, warkop mulai padat, dari sekadar bersenda gurau hingga yang bekerja menikmati Kopi Gayo.
Puncak perjalanan saya adalah saat menyeberang ke Pulau Weh, Sabang, untuk mengunjungi Monumen “Kilometer Nol Indonesia”. Saya pun menahbiskan diri berdiri di batas terjauh barat Nusantara dan tercatat sebagai pengunjung ke-174.496. Ini adalah kebanggaan tersendiri.
Saat ini, di hari kemerdekaan Indonesia, dinamika politik di Aceh sedikit menghangat. Saya hanya bisa memanjatkan doa untuk Aceh. Semoga senantiasa damai, aman, nyaman, dan tetap menjadi rumah penuh kenangan bagi siapa saja yang pernah singgah di tanah para wali tersebut.
Diketahui, Aceh dijuluki Serambi Mekkah karena peran historisnya sebagai titik awal penyebaran Islam di Nusantara. Aceh melahirkan banyak ulama besar dan tokoh kharismatik yang sangat dihormati sebagai wali (penyebar) ajaran Islam yang kuat di dalam maupun luar daerah. (LHr)
