Luwu Utara — Di atas lahan yang enam tahun lalu menyimpan duka mendalam akibat terjangan bencana banjir bandang, denyut kehidupan baru kini resmi berdetak kencang di Luwu Utara.
Pasalnya, bantaran sungai Masamba yang pernah diamuk banjir bandang, kini mendadak menjadi riuh oleh tenda-tenda kemping, gelak tawa, dan semangat kebersamaan yang terus digelorakan.
Di lokasi inilah, Pemda Luwu Utara melalui Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) menggelar Kemping Wisata dan Festival Gami-Gami, pada Sabtu-Minggu, 29 – 30 Agustus 2026.
Kegiatan yang masih dilaksanakan dalam rangka untuk memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ini dipusatkan di jantung kota, tepatnya di bantaran sungai Masamba.
Suasana penuh keakraban tampak jelas terlihat dari keterlibatan 31 Perangkat Daerah (PD), tiga kecamatan, dan 15 puskesmas yang telah mendirikan tenda sejak Sabtu (29/8/2026) malam.
Bagi Disporapar Luwu Utara, pemilihan lokasi ini bukan sekadar agenda seremonial pariwisata, tetapi juga bentuk pernyataan sikap atas ketangguhan kolektif warga Masamba pascabencana.
“Tahun 2020 silam, peristiwa memilukan terjadi. Banyak keluarga kita kehilangan nyawa dan harta benda. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah mereka,” tutur Bupati saat membuka kegiatan Kemping Wisata dan Festival Gami’ Gami’.
Kendati demikian, ia meminta masyarakat agar tidak kehilangan harapan. “Kita semua tidak boleh kehilangan harapan, meski masih ada bekas atau sisa-sisa bencana di beberapa titik,” harapnya.
Meski begitu, Pemda Lutra terus berkomitmen untuk menghadirkan perubahan melalui penataan kawasan bantaran sungai Masamba melalui penerangan lampu yang kian terang benderang.
Penataan kawasan bantaran sungai ini serta pulihnya fungsi bantaran sungai menjadi bukti nyata bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten Luwu Utara terus melakukan berbagai pembenahan.
"Alhamdulillah, tanggul sudah kelihatan, ada semangat, sudah ada pula sinar lampu yang terang. Dan juga bantaran sungai ini bisa kita tempati untuk beraktivitas," ujarnya penuh optimisme.
Di mata Bupati, sungai Masamba memiliki potensi geografis yang unik dan langka, karena berada tepat di tengah-tengah kota Masamba dengan aliran air yang bersih dan jernih.
Kawasan bantaran sungai ini, kata dia, dinilai sangat potensial untuk “disulap” sebagai episentrum pariwisata baru yang mampu menarik para pelancong, baik dari dalam maupun luar daerah.
“Di Sulawesi Selatan ini, jarang ada daerah yang di tengah kotanya ada sungai mengalir air yang bersih. Tempat ini, jika ditata dengan baik bisa kita manfaatkan secara optimal," tambahnya.
Ia berharap, melalui kegiatan perdana di bantaran sungai ini, ia mengirimkan pesan kuat kepada dunia luar bahwa Luwu Utara telah bangkit, berdamai dengan masa lalu, dan siap menyongsong masa depan yang jauh lebih hijau serta menarik.
Sebelumnya, Ketua Panitia, Hasrum Jaya, dalam laporannya menyebutkan bahwa kegiatan ini diikuti oleh 31 Perangkat Daerah, tiga kecamatan, dan seluruh Puskesmas se-Luwu Utara. (LHr)
