Gorontalo – Bupati Kabupaten Luwu Utara, Andi Abdullah Rahim, menghadiri acara puncak Pekan Nasional (PENAS) XVII Petani dan Nelayan yang digelar pada Rabu (24/6/2026) di Sport Center Limboto, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
Ada yang menarik dalam penampilan Bupati Luwu Utara, Andi Abdullah Rahim, yang tampak serasi dengan para pejabat negara saat mengenakan aksesoris kepala khas Gorontalo, yaitu Upia Karanji, sebuah songkok anyaman khas Gorontalo.
Dalam postingannya di media sosial Facebook, Andi Rahim mengungkapkan rasa bangganya bisa mengenakan songkok anyaman tersebut pada pertemuan akbar para penggiat pertanian sekelas PENAS yang merupakan sebuah forum berskala nasional.
Terlebih, penampilannya kompak dengan Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Menteri Pertanian (Mentan), serta jajaran Perum BULOG yang juga hadir dalam puncak acara PENAS tersebut.
Dengan memakai upia karanji, songkok anyaman khas Gorontalo, Bupati Andi Abdullah Rahim mengaku membawa kebanggaan tersendiri saat menghadiri PENAS Petani Nelayan XVII.
“Alhamdulillah, kompak bersama Bapak Mendagri, Bapak Mentan, serta jajaran Bulog,” tulis Andi Abdullah Rahim dalam akun media sosialnya di sela-sela menghadiri acara puncak PENAS.
Ia menjelaskan, kehadiran kepala daerah serta jajaran menteri dalam PENAS XVII bukan sekadar seremonial, melainkan bentuk komitmen nyata dalam mengapresiasi perjuangan para petani dan nelayan di seluruh penjuru negeri.
“Kehadiran kami di sini menjadi sebuah regulasi untuk merayakan kerja keras para pahlawan pangan kita yang ada di seluruh penjuru Indonesia,” tulis Bupati Andi Abdullah Rahim lagi.
Melalui momentum ini, ia mengajak seluruh pihak terkait untuk menyatukan tekad demi menjaga ekosistem agraria nasional, mulai dari proses produksi di hulu hingga distribusi di hilir.
Ia juga menekankan pentingnya tiga pilar utama dalam sektor agraria, yaitu memastikan pasokan ketersediaan pangan nasional agar tetap aman, melindungi nilai tukar petani dan keterjangkauan konsumen, serta meningkatkan taraf hidup petani dan nelayan secara berkelanjutan.
Untuk itu, ia tak lupa menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada tuan rumah atas keramahtamahan yang diberikan kepada peserta PENAS selama pergelaran acara berlangsung.
“Terima kasih, Gorontalo, atas sambutan hangatnya. Mari bersama-sama kita wujudkan Indonesia berswasembada pangan dan mandiri pangan,” pungkasnya penuh optimis.
Diketahui, PENAS kali ini mengangkat tema sentral “Transformasi Teknologi dalam Mendukung Swasembada Pangan Nasional”. PENAS dihadiri sekitar 50.000 peserta dari berbagai unsur.
PENAS Petani Nelayan adalah forum pertemuan akbar antara para petani, nelayan, dan penggiat sektor pertanian/perikanan dari seluruh penjuru Indonesia.
Acara ini berskala nasional dan diselenggarakan secara berkala setiap 3 atau 4 tahun sekali oleh Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) bekerja sama dengan Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan pemerintah daerah setempat. (LHr)
