PINRANG – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) menjadi peluang bagi guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Namun, di tengah pesatnya kemajuan teknologi, peran guru dalam mendidik dan membentuk karakter peserta didik tetap tidak tergantikan. Pesan inilah yang disampaikan Musakkir, guru Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Pinrang, saat menjadi narasumber dalam kegiatan PGRI POWER Satu Juta Guru Mahir Koding dan AI yang merupakan program dari Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia dalam menyambut Hari Guru Nasional Tahun 2026.
Kegiatan yang diselenggarakan Pengurus Cabang Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kecamatan Paleteang tersebut berlangsung di SMP Negeri 7 Pinrang, Kelurahan Temmassarangnge, Kecamatan Paleteang, Kabupaten Pinrang, Kamis (5/11/2026). Kegiatan ini diikuti guru perwakilan Ranting Unit Kerja (RUK) se-Kecamatan Paleteang.
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua PGRI Kabupaten Pinrang Darmin bersama jajaran pengurus, Koordinator Wilayah Kecamatan Paleteang, Ketua PGRI Cabang Paleteang beserta jajaran, serta para peserta dari masing-masing RUK.
Selain Musakkir, kegiatan ini menghadirkan dua narasumber lainnya, yakni Bahtiar, guru UPT SDN 251 Pinrang, dan Muhammad Ilham, guru SDN 24 Pinrang. Ketiganya berbagi pengetahuan dan pengalaman untuk meningkatkan kompetensi guru dalam memanfaatkan teknologi digital, khususnya koding dan kecerdasan buatan.
Dalam pemaparannya, Musakkir menekankan bahwa kehadiran AI seharusnya dipandang sebagai peluang untuk membantu guru bekerja lebih efektif, bukan sebagai ancaman terhadap profesi pendidik.
Menurutnya, AI dapat dimanfaatkan untuk mendukung berbagai pekerjaan guru, mulai dari penyusunan perangkat pembelajaran, pengembangan bahan ajar, hingga membantu menyelesaikan tugas-tugas administrasi yang selama ini menyita banyak waktu.
“AI adalah asisten yang dapat membantu pekerjaan kita sebagai guru. Dengan memanfaatkannya secara tepat, pekerjaan bisa menjadi lebih efektif sehingga kita memiliki lebih banyak waktu untuk mendampingi dan membimbing murid,” ungkap Musakkir.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kecanggihan teknologi tidak boleh membuat guru melupakan hakikat pendidikan. Baginya, pendidikan bukan sekadar menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membentuk kepribadian, menanamkan nilai-nilai kebaikan, serta membimbing murid menjadi manusia yang berakhlak mulia.
“Pendidikan karakter tidak dapat digantikan oleh AI. Teknologi mungkin bisa membantu kita menyampaikan materi, tetapi keteladanan, kepedulian, dan pembinaan karakter murid tetap membutuhkan kehadiran seorang pendidik,” tegasnya.
Pada kesempatan itu, Musakkir juga menyampaikan pesan pendidikan yang kerap disampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pinrang, H. Muhammad Idris Usman, bahwa seorang pendidik tidak hanya memberi contoh, tetapi harus menjadi contoh bagi murid-muridnya.
Pesan tersebut, menurutnya, menjadi pengingat bahwa guru memiliki tanggung jawab moral untuk menunjukkan nilai-nilai yang diajarkan melalui sikap dan perilaku sehari-hari. Pemanfaatan teknologi harus berjalan seiring dengan penguatan karakter dan keteladanan.
Musakkir juga mengajak para guru untuk terus berinovasi dan tidak berhenti belajar di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat. Ia menilai, guru yang mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman akan lebih siap menghadirkan pembelajaran yang menarik, relevan, dan sesuai dengan kebutuhan murid.
“Jangan pernah merasa cukup dengan ilmu yang kita miliki. Teruslah belajar, mencoba hal-hal baru, dan berinovasi dalam pembelajaran. Manfaatkan AI untuk meningkatkan kualitas pendidikan, tetapi jangan sampai kita kehilangan sentuhan kemanusiaan dalam mendidik,” pesannya.
Sementara itu, Plt. Kepala MAN Pinrang, H. Suharto, menyampaikan harapannya agar keterlibatan Musakkir sebagai narasumber dapat menjadi inspirasi bagi guru-guru untuk terus mengembangkan kompetensi dan meningkatkan kualitas pembelajaran.
Ia berharap, penguasaan teknologi koding dan AI dapat mendorong lahirnya inovasi pembelajaran yang lebih kreatif dan efektif, tanpa mengesampingkan nilai-nilai karakter, akhlak, serta keteladanan yang menjadi fondasi pendidikan madrasah.
Menurutnya, guru harus mampu mengikuti perkembangan zaman sekaligus menjaga jati dirinya sebagai pendidik. Dengan demikian, pemanfaatan teknologi bukan hanya memudahkan proses pembelajaran, tetapi juga menjadi sarana untuk melahirkan generasi yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan. (***)
