DENPASAR, WartaMadani — Guru MAN Pinrang, Subair, memaparkan inovasi pembelajaran berbasis Social Inquiry dalam SAGA (Sharing Gagasan) Special Edition KINFTRA (Konferensi Nasional Fasilitator dan Trainer) Road to Bali yang diselenggarakan Balai Diklat Keagamaan (BDK) Denpasar secara daring, Kamis (8/10/2026).
Subair terpilih sebagai salah satu pemapar terbaik setelah karyanya menjadi bagian dari 40 tulisan yang lolos seleksi di tingkat nasional. Forum tersebut diikuti lebih dari 200 peserta yang berasal dari unsur widyaiswara, dosen, guru, hingga pegawai Kementerian Agama dari berbagai daerah di Indonesia.
Kegiatan dibuka Kepala BDK Denpasar, H. Saprillah, dan menghadirkan Dr. Farid F. Saenong, M.A., Ph.D., Koordinator Staf Khusus Menteri Agama RI, sebagai keynote speaker.
Insersi Moderasi Beragama melalui Social Inquiry
Dalam pemaparannya, Subair mengangkat inovasi insersi nilai-nilai Moderasi Beragama yang diintegrasikan secara kontekstual ke dalam pembelajaran Al-Qur'an Hadis. Pendekatan Social Inquiry digunakan untuk membawa peserta didik keluar dari batas pembelajaran di ruang kelas agar dapat memahami dan menginternalisasi nilai moderasi melalui realitas sosial di lingkungan sekitar.
Inovasi tersebut diterapkan melalui sejumlah tema yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Pada tema hidup sederhana dan menyantuni dhuafa, peserta didik melakukan refleksi dan active listening terhadap kehidupan warga keturunan Tionghoa yang tetap bersahaja di tengah keberhasilan ekonomi. Pengalaman tersebut diarahkan untuk menumbuhkan sikap toleransi sekaligus nilai kesederhanaan.
Pada tema kesabaran dan ketabahan menghadapi tantangan hidup, peserta didik menggali secara langsung kisah perjuangan anak-anak tunawisma pengamen jalanan. Interaksi tersebut menjadi ruang pembelajaran untuk menumbuhkan kesetaraan dan kepedulian sosial.
Sementara itu, pada tema pelestarian lingkungan, peserta didik berinteraksi dengan tokoh penyandang disabilitas yang menjadi penggerak bank sampah. Dari pengalaman tersebut, peserta didik diajak memahami bahwa kepedulian terhadap lingkungan juga merupakan bagian dari pengamalan nilai-nilai agama yang moderat.
Temuan dari kegiatan lapangan kemudian diolah peserta didik menjadi karya video naratif. Video tersebut selanjutnya digunakan sebagai bahan diskusi dan refleksi dalam pembelajaran di kelas.
Inovasi tersebut kemudian dikembangkan lebih lanjut dengan mengintegrasikan video-video narasi ke dalam Game Literasi Moderasi Beragama, sebuah media pembelajaran digital interaktif yang dirancang untuk memperkuat pemahaman peserta didik terhadap nilai-nilai moderasi beragama melalui pembelajaran yang lebih menarik dan kontekstual.
Subair menyampaikan rasa syukur atas kesempatan untuk berbagi praktik baik tersebut dalam forum berskala nasional yang mempertemukan para akademisi, praktisi pendidikan, dan aparatur Kementerian Agama dari berbagai daerah.
“Saya sangat bersyukur dapat berbagi praktik baik insersi moderasi beragama ini di forum berskala nasional. Harapannya, terobosan ini dapat menginspirasi penguatan nilai-nilai moderasi beragama secara substantif dan aplikatif di seluruh satuan pendidikan keagamaan,” ungkap Subair.
Keikutsertaan Subair dalam SAGA Special Edition KINFTRA Road to Bali menjadi ruang berbagi praktik baik sekaligus memperkenalkan inovasi pembelajaran dari madrasah kepada komunitas pendidikan keagamaan di tingkat nasional.
