Menjelang Hari Keluarga Nasional yang diperingati setiap 29 Juni, kita kembali diingatkan bahwa keluarga merupakan fondasi utama dalam membentuk karakter anak. Momentum ini terasa semakin relevan ketika masyarakat berkali-kali dikejutkan oleh kasus bullying yang viral di media sosial. Di balik peristiwa tersebut, kita dapat melihat gejala yang lebih dalam, yakni rapuhnya ruang keluarga sebagai tempat anak belajar nilai, empati, dan penghormatan terhadap sesama.
Video kekerasan antaranak yang beredar luas sering kali memunculkan kemarahan publik. Namun di balik setiap peristiwa itu, ada pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa anak-anak yang seharusnya tumbuh dalam lingkungan yang aman justru terlibat dalam perilaku yang menyakiti sesamanya? Pertanyaan ini penting agar perhatian kita tidak hanya berhenti pada peristiwa, tetapi juga menyentuh akar persoalannya.
Ki Hadjar Dewantara melalui konsep Tri Pusat Pendidikan dalam Bagian Pertama: Pendidikan (2011) menjelaskan bahwa pendidikan berlangsung dalam tiga lingkungan, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dari ketiganya, keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama. Sebelum mengenal sekolah dan masyarakat, anak terlebih dahulu belajar dari kehidupan di rumah.
Anak belajar bukan hanya melalui nasihat, melainkan terutama melalui teladan. Cara orang tua berbicara, menyelesaikan konflik, mengendalikan emosi, dan memperlakukan orang lain akan membentuk cara pandang anak terhadap kehidupan sosial. Apa yang mereka lihat setiap hari sering kali menjadi pola perilaku yang dibawa ke luar rumah.
Karena itu, ketika kasus bullying terus terjadi, penting bagi kita untuk melihat kembali kualitas hubungan dalam keluarga. Apakah rumah menjadi tempat yang aman bagi anak untuk bercerita? Apakah orang tua memiliki waktu untuk mendengarkan mereka? Ataukah kesibukan dan penggunaan gawai justru membuat komunikasi semakin berjarak?
Zakiah Daradjat dalam Kesehatan Mental (1983) menjelaskan bahwa suasana keluarga memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan kepribadian dan kesehatan mental anak. Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang hangat dan penuh perhatian cenderung lebih mampu mengelola emosi dan membangun hubungan sosial yang sehat.
Kerapuhan ruang keluarga tidak selalu ditandai oleh konflik besar. Kadang-kadang ia hadir dalam bentuk yang lebih sederhana: kurangnya waktu bersama, minimnya percakapan yang bermakna, atau hilangnya perhatian terhadap kehidupan emosional anak. Dalam situasi seperti ini, anak dapat tumbuh tanpa pendampingan yang memadai ketika menghadapi berbagai persoalan.
Tantangan tersebut semakin kompleks di era digital. Anak-anak tidak hanya belajar dari keluarga dan sekolah, tetapi juga dari berbagai konten yang mereka konsumsi setiap hari. Ketika kekerasan, ejekan, dan penghinaan kerap tampil sebagai hiburan yang mendapatkan perhatian luas, sebagian anak dapat kehilangan kepekaan terhadap dampak perbuatannya terhadap orang lain.
Akibatnya, bullying yang dahulu hanya terjadi dalam lingkup terbatas kini dapat menyebar dalam hitungan menit. Korban tidak hanya mengalami luka akibat peristiwa yang dialaminya, tetapi juga harus menghadapi tekanan psikologis karena kejadian tersebut terus beredar dan disaksikan banyak orang.
Dalam perspektif Islam, keluarga merupakan amanah yang harus dijaga dengan sungguh-sungguh. Allah SWT berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka" (QS. At-Tahrim: 6). Ayat ini menegaskan bahwa tanggung jawab keluarga tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan materi, tetapi juga pembentukan akhlak dan nilai-nilai kehidupan.
Rasulullah SAW juga bersabda, "Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya" (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini mengingatkan bahwa orang tua memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan lingkungan yang penuh kasih sayang, keteladanan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Karena itu, Hari Keluarga Nasional seharusnya tidak dimaknai sekadar sebagai peringatan tahunan. Momentum ini perlu menjadi ajakan untuk menghidupkan kembali fungsi keluarga sebagai tempat tumbuhnya nilai-nilai kebaikan. Sekolah, masyarakat, dan negara memang memiliki peran penting dalam melindungi anak, tetapi keluarga tetap menjadi benteng pertama yang menentukan arah perkembangan mereka.
Pada akhirnya, maraknya bullying yang viral di media sosial dapat menjadi cermin bagi kita semua. Memperingati Hari Keluarga Nasional berarti memperkuat kembali ruang keluarga sebagai tempat anak belajar menghargai sesama, mengembangkan empati, dan membangun akhlak yang baik. Sebab ketika ruang keluarga menjadi rapuh, anak kehilangan tempat belajar yang paling mendasar. Sebaliknya, ketika ruang keluarga tumbuh kuat, di sanalah lahir generasi yang lebih beradab dan bermartabat.

