Beras gratis yang datang siang kemarin seakan menyalakan kembali mesin waktu dan melintasi lorong-lorong sang waktu. Sebuah ingatan lama yang sekian tahun senyap, tiba-tiba hidup kembali dalam wujud yang begitu hangat.
Teringat ribuan hari yang lalu, saat saya masih berkutat di lapangan sebagai Penyuluh Pertanian. Setiap kali musim panen tiba, terlebih menjelang bulan Ramadan dan Idulfitri, selalu ada deretan kebaikan yang diantarkan para petani binaan saya dulu.
Dari beras hasil jerih payah mereka, sampai ayam kampung, dan sayuran segar. Semuanya antri “mengetuk” pintu rumah. Padahal, setiap kali mereka menyodorkannya, saya selalu berucap: "Tak usah repot-repot, Pak, Bu. Ketemu Bapak Ibu petani saja saya sudah bahagia."
Namun, ketulusan petani sulit ditolak. Hubungan kami waktu itu bukan sekadar urusan kemitraan antara penyuluh dan petani, melainkan hubungan itu sudah bersenyawa. Ada rasa kekeluargaan yang tumbuh di antara lumpur, keringat, dan batas-batas sawah.
Waktu terus berlalu, profesi saya berganti. Dari mengurusi pertanian berganti menjadi mengurusi pariwisata. Kebiasaan mendapatkan beras gratis juga perlahan memudar. Hingga kurun waktu 10 tahun kemudian, ketulusan itu mengetuk pintu saya kembali.
Ya, seorang ASN yang acapkali saya panggil adek menelpon saya kemarin. “Kak, ini ada sedikit beras saya kasi ki. Saya habis panen. Di mana ki bisa saya kasi?" tanya dia. Namanya Evi Palitondok. Mengenalnya sejak saya masih berstatus CPNS tahun 2003.
Saat ia mengatakan itu dari ujung telepon seluluer, saya tertegun beberapa jenak. Saya kemudian menjawab, “Kita ketemu di masjid pemda saja. Kebetulan saya Bimtek PPID, Dek." Bertemulah kami di masjid pemda usai melaksanakan salat ashar berjemaah.
Dia pun menyodorkan buah keringatnya tanpa banyak retorika. "Kak, tabe, ini beras saya kasi ki,” ucap dia sambil berlalu. Saya yang masih mengikat tali sepatu langsung teriak pelan, “Dek, terima kasih banyak”. Ia pun menimpali sambil berkata dan berlalu, “Iye, Kak”.
Di balik kalimat sederhananya itu, ada penghormatan dan keikhlasan yang tidak pernah luntur digerus waktu. Saya hanya bisa berucap lirih berkali-kali dalam hati, “Terima kasih banyak, Dek." Beras itu mungkin bernilai materi, tetapi rasa haru yang dibawanya tak ternilai harganya.
Momen hangat kemarin menjadi pengingat yang begitu indah, bahwa benih kebaikan, sekecil apa pun yang pernah disemai, tidak akan pernah hilang ditelan ruang dan waktu. Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk kembali datang mengetuk ruang hidup kita.
Terima kasih, Dek. Insya Allah, kebaikan akan selalu menemukan jalan untuk bertemu dengan hal-hal baik. Buat para petaniku dulu, sudah lama kita tidak berjumpa, tetapi benih-benih kebaikan yang pernah kita tanam, kini telah hidup dan tumbuh, meski dari sosok yang lain. (LHr)
