Kabar itu datang tanpa aba-aba. Ia menyambar lewat sebuah pesan singkat di WhatsApp dari seorang teman yang juga mantan wartawan Palopo Pos. Di tengah keheningan, layar ponsel milik saya pribadi seolah berubah menjadi petir di siang bolong. “Palopo Pos Berhenti Bernapas.”
Saya tersentak kaget. Tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba saja media kebanggaan masyarakat Tana Luwu ini mengumumkan keputusannya untuk berhenti bernapas. Bagi banyak orang, ini mungkin sekadar berita bisnis tentang gulung tikarnya sebuah koran cetak di tengah badai zaman.
Namun, bagi saya pribadi, bahkan bagi ribuan orang yang hidup dan tumbuh bersama lembaran-lembaran koran Palopo Pos, kabar duka ini terasa seperti kehilangan seorang sahabat yang telah menemani separuh perjalanan hidup kita di atas bumi, yang juga sedang tidak baik-baik saja.
Saya ingin flashback kembali hubungan saya dengan Palopo Pos yang terjalin begitu panjang dan sangat “intim”. Semuanya bermula saat koran ini pertama kali naik cetak dan menyapa pembaca, khusus di wilayah Tana Luwu, 26 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 17 Maret 2000 silam.
Sejak hari-hari pertama tersebut, Harian Palopo Pos bukan lagi sekadar lembaran kertas yang berisi informasi berita serta tumpukan iklan berbaris, tetapi juga merupakan jendela dunia, kolam aspirasi, wadah inspirasi, serta cermin dari dinamika sosial masyarakat lokal di Tana Luwu.
Palopo Pos memegang porsi yang sangat sakral dalam catatan hidup saya. Dari rahim media inilah saya merajut dan mendesain personal branding sebagai seorang ASN di Pemda Luwu Utara. Tak terhitung berapa banyak tulisan, berita, dan buah pikiran saya yang berkelindan di Palopo Pos.
Saya masih bisa merasakan betapa kenangan manis itu masih membekas kuat di ingatan. Sekira akhir tahun 2000 atau awal 2001, ketika nama dan foto saya untuk pertama kalinya terpampang di koran lewat rubrik To Marajjing. Rasanya luar biasa bagi seorang pemuda “bengal” saat itu.
Dua tahun berselang, didorong oleh idealisme yang bergejolak, saya nekat menulis di kolom opini. Topiknya pun tak kalah fenomenal saat itu, yaitu saya menyoroti demam "Goyang Ngebor" Inul Daratista yang tengah mengguncang jagad hiburan tanah air, sehingga menjadi diskursus publik.
Sejak tulisan perdana itu, pintu-pintu inspirasi seolah terbuka lebar, yang membuat saya makin rajin mengisi ruang-ruang opini Palopo Pos. Setiap bait kalimat tersusun tak lagi sekadar deretan huruf di atas kertas, melainkan wujud dialog batin antara diri, realitas sosial, dan para pembaca.
Bagi seorang penulis, koran lokal seperti Palopo Pos memegang peran istimewa. Ia bukan sekadar media cetak harian, tetapi juga merupakan panggung kerakyatan, tempat denyut nadi Tana Luwu bertumbuh, berdiskusi, serta mencari titik-titik yang terang atas berbagai persoalan zaman.
Takdir rupanya membawa hubungan itu makin erat. Ketika saya resmi diangkat PNS pada 2003, intensitas perjumpaan saya dengan Palopo Pos melonjak drastis. Saat itu, saya mendapat amanah untuk bertugas di Kantor Infokom hingga Bagian Humas dan Protokol, sebagai "Jurnalis Pemda".
Tugas saya jelas saat itu. Meramu, mendesain, dan menyampaikan setiap kabar baik, kebijakan, serta denyut nadi pembangunan pemerintah daerah agar sampai ke tangan-tangan masyarakat secara luas. Dan di sanalah Palopo Pos berdiri tegak sebagai mitra paling setia yang menemani.
Bahkan saat tak lagi bertugas sebagai “Jurnalis Pemda”, intensitas pertemuan dengan Palopo Pos tak pernah surut. Ia tetap menjadi mitra strategis dalam mengabarkan kebaikan. Hal itu terbukti saat saya menjadi penyuluh. Di mana kabar seputar pertanian konsisten menghiasi Palopo Pos.
Media yang selalu dinanti kehadirannya setiap pagi di warung kopi dan perkantoran ini menjadi sahabat sejati yang selalu berjuang menyuarakan kebaikan untuk Tana Luwu tercinta. Palopo Pos bagi saya bukan sekadar mitra sejati, tetapi juga teman diskusi dalam kedaan suka maupun duka.
Namun, roda zaman berputar tanpa belas kasihan. Kabar duka itu akhirnya terkonfirmasi: Palopo Pos resmi mengakhiri perjalanan persnya hingga batas waktu yang belum ditentukan. Pesan WA dari eks wartawan Palopo Pos menjadi saksi bisu atas penutupan lembaran sejarah tersebut.
Saya tak ingin berspekulasi atas gulung tikarnya Palopo Pos. Namun, satu yang tak bisa diabaikan adalah adanya badai efisiensi yang mendera serta gelombang perubahan lanskap industri media yang bergerak begitu liar, membuat benteng pertahanan terakhir media cetak ini akhirnya goyah.
Tahta sebagai media nomor satu di Tana Luwu ini harus berhadapan kenyataan pahit yang tak bisa dihindari. Frasa singkat yang viral melalui WhatsApp mendadak meredupkan semangat saya: Mulai 1 Oktober 2026, Harian Palopo Pos non-aktif sampai batas waktu yang belum ditentukan.
Kalimat inilah yang menjadi penanda resmi ditutupnya lembaran-lembaran panjang perjalanan pers lokal yang sarat dengan gairah dan sejarah. Edisi Rabu, 30 September 2026, resmi menjadi edisi pamungkas. Hari di mana Palopo Pos mencetak napas terakhirnya di atas kertas koran.
Kini, koran kebanggaan masyarakat Tana Luwu ini telah benar-benar “purna tugas”. Tinta cetaknya telah mengering, mesin-mesin rotasinya beristirahat selamanya, dan kantor redaksinya mungkin telah sepi dari keriuhan ketikan jemari redaktur di meja redaksi untuk menyongsong deadline.
Rasa sedih menggelayut di dada. Sulit untuk disembuhkan dalam waktu singkat. Palopo Pos pergi meninggalkan ruang kosong yang teramat besar di hati masyarakat Tana Luwu, terkhusus saya, yang terbentuk karakternya berkat rubrik atau ruang-ruang halaman yang Palopo Pos sediakan.
Terima kasih telah membersamai masa muda saya sampai detik ini. Merawat literasi, dan menjadi saksi bisu atas setiap jengkal perjalanan pengabdian saya. Engkau boleh berhenti, tetapi sejarah, dan jasamu akan abadi dalam ingatan kami. Namamu harum di setiap lipatan sejarah Tana Luwu.
Saya tetap optimistis Palopo Pos akan terus hadir dalam dimensi berbeda. Mengingat rekam jejak emas telah mereka torehkan dalam dunia jurnalistik tanah air, khususnya Tana Luwu. Oleh karena itu, Palopo Pos versi daring tidak boleh berhenti, meski versi cetak telah berhenti berdetak. (LHr)
