Tinjauan Umum Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam

ISLAM merupakan ajaran yang dapat membina pribadi muslim seutuhnya dalam wujud sifat-sifat iman, taqwa, jujur, adil, sabar, cerdas, disiplin, tenggang rasa, bijaksana dan bertanggung jawab. Melalui Pendidikan Agama Islam diupayakan untuk menginternalisasi nilai-nilai ajaran Islam agar outputnya dapat mengembangkan kepribadian muslim yang memiliki sifat-sifat di atas.

Pada saat ini, tata kehidupan banyak diwarnai dengan informasi., globalisasi, demokrasi dan hak-hak asasi manusia dibarengi dengan perkembangan penduduk yang pesat dan makin langkanya sumber daya ekonomis. Suasana kehidupan yang semakin kompleks menyebabkan manusia saling bersaing. Tantangan seperti inipun terjadi di bidang pendidikan, khususnya pendidikan Islam untuk menjawab tantangan masa depan.

Adapun peran pendidikan Islam itu antara lain;
1.      Melestarikan dan mengembangkan kerangka dasar nilai-nilai Islami pada peserta didik agar terbentuk pribadi seutuhnya sehingga dapat menjadi sumber daya insani yang berkualitas bagi pembangunan dan tata kehidupan masyarakat mendatang.
2.      Menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dengan khaliqNya, sehingga selalu mendapat ridhaNya.[1]

Jadi, di satu pihak pendidikan Islam dituntut untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan dan nilai-nilai baru sebagai akibat dengan perkembangan iptek. Sedangkan di pihak lain pendidikan Islam harus mempertahankan konsep perwujudan rahmah li al ‘alamin.

Pendidikan Islam bertujuan untuk menginformasikan, mentransformasikan serta menginternalisasikan nilai-nilai Islami. Dengan demikian diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran dan mengembangkan segi-segi kehidupan spiritual yang baik dan benar dalam rangka mewujudkan pribadi muslim seutuhnya dengan ciri-ciri beriman, taqwa, berbudi pekerti luhur, cerdas, terampil dan bertanggung jawab. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan penyusunan strategi pendidikan yang terencana dan sistematis, antara lain menyusun materi-materi yang relevan dengan tingkat perkembangan dan kemampuan berfikir peserta didik serta menerapkan metode pembelajaran yang efektif dan efisien.

Materi pendidikan Islam adalah segala sesuatu yang hendak diberikan kepada peserta didik untuk dicerna, diolah, dihayati serta diamalkan dalam proses kegiatan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan Islam.

Esensi dari potensi dinamis dalam setiap diri manusia terletak pada keimanan atau keyakinan, Indeks Prestasi (IP), akhlak (moralitas), dan pengamalannya. Jadi secara filosofis, pendidikan Islam harus mampu menanamkan nilai-nilai dasar tersebut sebagai landasan atau petunjuk dalam proses pendidikan. Adapun pandangan dasar yang berintikan pada “Trichotomi” (Tiga Kekuatan Rohaniah Pokok) yang berkembang dalam pusat kemanusiaan manusia (antropologis centra) meliputi:[2]
1.      Individualitas; kemampuan mengembangkan diri pribadi sebagai makhluk pribadi.
2.      Sosialitas; kemampuan mengembangkan diri selaku anggota masyarakat.
3.         Moralitas; kemampuan mengembangkan diri selaku pribadi dan anggota masyarakat berdasarkan moralitas (nilai-nilai moral dan agama).

Ketiga kemampuan pokok rohaniah di atas berkembang dalam pola hubungan tiga arah yang disebut sebagai “Trilogi Hubungan”, yaitu:
a.       Hubungannya dengan Tuhan disebabkan sebagai makhluk ciptaanNya.
b.      Hubungannya dengan masyarakat disebabkan sebagai anggota masyarakat.
c.       Hubungannya dengan alam sekitar disebabkan sebagai makhluk Allah SWT yang harus mengelola, mengatur, memanfaatkan kekayaan alam sekitar yang terdapat di atas, di bawah dan di dalam perut bumi.[3]

Dari pandangan tersebut di atas dapat diketahui kemana arah dan tujuan pendidikan Islam yang akan dicapai. Untuk mencapainya dapat dikembangkan melalui rincian penyajian materi-materi pendidikan Islam.

Sedangkan jika kita merujuk kepada arah dari nilai-nilai Pendidikan Agama Islam itu sendiri setidaknya berisi 3 garis besar di dalamnya, yaitu:
Iman.
Pendidikan hendaknya berupaya meningkatkan rasa keimanan makhluk kepada Sang Khaliq. Hal ini dirasakan penting agar ilmu pengetahuan selalu beriringan dengan peningkatan rasa keimanan dan ketakwaan.  Tujuannya agar peserta didik sudah mempunyai dasar pijakan dalam mengarungi bahtera hidup. Selain itu, dengan ditumbuhkannya rasa keimanan pada peserta didik sejak usia dini diharapkan tidak mengalami pergeseran nilai-nilai keagamaan ketika menginjak usia dewasa. Iman atau biasa disebut juga sebagai aqidah atau tauhid umumnya berkisar pada rukun iman yang bersumber pada hadits Rasulullah SAW:                         
عَنْ عُمَرَ ابْنُ الخَطَّابِ أَيْضًا قَالَ: ... فَأَخْبِرْنِى عَنِ اْلِإيْمَانِ؟ قَالَ: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِاْلقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ ... (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

 

“Dari Umar bin Khattab RA. berkata pula: … Beritahukanlah kepadaku mengenai Iman?”. Rasulullah SAW bersabda: “Engkau percaya kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, hari akhir dan engkau percaya pula kepada qadha dan qadar yang baik maupun yang buruk …”. (HR. Muslim).[4] 
1.                  Syari’ah.
Yaitu aturan atau undang-undang Allah SWT tentang pelaksanaan dari penyerahan diri secara total melalui proses ibadah secara langsung kepada Allah SWT maupun secara tidak langsung dalam hubungannya sesama makhluk lainnya (muamalah), baik dengan sesama manusia maupun dengan alam sekitarnya. Syari’ah meliputi 2 hal pokok, yaitu: Ibadah dalam pengertian khusus (ibadah mahdhah) dan Ibadah dalam arti umum atau muamalah (ibadah ghairu mahdhah).

Akhlak.
Akhlak merupakan salah satu dari tiga kerangka pola ajaran Islam selain Iman dan Syari’ah. Akhlak merupakan nilai-nilai dan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengan sorotan dan timbangannya seseotang dapat menilai perbuatannya baik ataupun buruk, untuk kemudian memilih melakukan atau meninggalkannya. Jadi, akhlak bersifat konstan dan spontan serta tidak memerlukan pertimbangan dan dorongan dari luar.

Dalam konsep akhlak, segala sesuatu itu dinilai baik atau buruk, terpuji atau tercela, semata-mata karena syara’ (Al-Qur’an dan Sunnah) menilainya. Misalnya, sifat syukur, sabar, tawakkal, istiqamah dinilai baik, tidak lain karena syara’ menilai semua sifat tersebut baik. Sebaliknya, sifat dendam, kikir, dusta dinilai buruk karena syara’ pun menilainya demikian. Adapun ruang lingkup akhlak tersebut sangatlah luas yaitu mencakup aspek-aspek kehidupan baik secara vertikal dengan Allah SWT maupun secara horizontal dengan sesama makhlukNya. Dalam hubungannya dengan aspek pendidikan, akhlak menempati posisi strategis dalam memainkan sisi emosional dan psikologi peserta didik dalam pergaulannya dengan sesama dan alam sekitarnya.
Menurut Yunahar Ilyas, akhlak terbagi menjadi:
a. Akhlak terhadap Allah SWT.
b. Akhlak terhadap Rasulullah SAW.
c. Akhlak terhadap pribadi.
d. Akhlak dalam keluarga.
e. Akhlak dalam bermasyarakat.
f. Akhlak bernegara.[5]

Berbicara tentang nilai-nilai, maka filsafat perlu dipertimbangkan pula agar pilihan kita menjadi bijaksana. Pun demikian penerapannya pada metode pendidikan yang banyak menyangkut dengan pembentukan kepribadian (character building) dan kualitas hidup manusia.

Korelasi atau munasabah metode pendidikan dengan filsafat disebabkan oleh beberapa hal: Pertama, pembentukan karakter (character building) yang berlangsung dalam diri anak didik adalah suatu bagian yang tak terpisahkan pada pengalaman hidup. Secara akumulatif hal tersebut akan terserap ke dalam sifat-sifat (karakter) spesifik yang terbangun dari berbagai macam tanggapan peserta didik terhadap situasi kehidupan yang ditemuinya, misalnya perlawanan, kepatuhan dan lain sebagainya.

Kedua, banyaknya cara atau metode untuk mengurus sekolah dan pengajaran terhadap peserta didik. Perbedaan metode pengajaran tersebut mempengaruhi tipologi korelasi tanggapan peserta didik dan menghasilkan berbagai macam karakter. Kemungkinan adanya perbedaan pengaruh tersebut menuntut adanya pemilihan metode secara teliti.

Ketiga, adanya pertimbangan mengenai masyarakat sekolah yang akan dipersiapkan. Misal, jenis masyarakat demokratis dan sebagainya.[6]

Apabila metode dipahami secara sempit maka terlihat hanya menyangkut mata pelajaran yang akan diajarkan dan bagaimana mengelola tipologi mengajar yang terbatas. Tetapi secara luas, masalah metode ini menyangkut berbagai nilai yang akan ditegakkan, seperti nilai mata pelajaran, sikap dan karakter yang akan dibangun, nilai-nilai masyarakat dan sebagainya.

Setiap materi pelajaran memiliki tujuan masing-masing yang hendak dicapai. Untuk itu, pendidik (guru) dituntut untuk memilih metode yang paling tepat atau sesuai untuk mata pelajarannya agar tujuan materi tersebut dapat tercapai. Pemilihan metode ini didasarkan kepada beberapa hal, yaitu:
1.      Sifat dari pelajaran,
2.      Alat-alat yang tersedia,
3.      Besar atau kecilnya kelas,
4.      Tempat dan lingkungan,
5.      Kesanggupan guru (pendidik),
6.      Banyak atau sedikitnya bahan,
7.      Tujuan mata pelajaran tersebut.[7] 

Menurut jenisnya, metode terbagi dalam beberapa macam, antara lain:
1. Metode Ceramah.
Yaitu guru memberikan uraian atau penjelasan kepada sejumlah peserta didik pada waktu tertentu (waktu terbatas) dan tempat tertentu pula.[8] Guru (pendidik) merupakan pihak yang aktif atau sebagai pusat kegiatan (teacher centered) dan murid (peserta didik) cenderung pasif. Metode seperti ini sudah sangat tua usianya dan sangat banyak digunakan hingga saat ini.

2. Metode Tanya Jawab.
Yaitu suatu cara mengajar dimana guru dan murid aktif bersama. Guru bertanya, murid mencari jawaban atau murid mengemukakan ide baru. Dalam metode ini guru bertujuan menanyakan.[9]

3. Metode Diskusi.
Pertanyaan diskusi mengandung masalah sehingga dapat dikembangkan menjadi metode pemecahan masalah (Problem Solving Method).[10]   Jawaban dari masalah tersebut terdiri atas berbagai alternatif, memerlukan pemikiran yang saling menunjang dari peserta diskusi agar sampai pada jawaban akhir yang disepakati sebagai jawaban yang paling benar atau terbaik.

4. Metode Demonstrasi.
Yaitu metode mengajar yang menggunakan peragaan (alat peraga) untuk memperjelas suatu pengertian atau untuk memperlihatkan bagaimana melakukan sesuatu kepada peserta didik. Misalnya, memperlihatkan tata cara shalat sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW. 

5. Metode Pemberian Tugas.
Yaitu suatu cara dalam pendidikan belajar mengajar andaikata guru memberi tugas tertentu dan murid (peserta didik) harus mengerjakannya yang kemudian tugas tersebut dipertanggungjawabkan kepada guru yang bersangkutan.[11] Metode ini pada hakikatnya adalah menyuruh peserta didik melaksanakan suatu pekerjaan yang baik atau berguna bagi dirinya dalam rangka memperdalam dan memperluas pengetahuan serta pengertian atau untuk meningkatkan iman dengan tugas-tugas yang sedang dipelajarinya.

6. Metode Kerja Kelompok.
Yaitu suatu metode dengan cara membagi peserta didik dalam beberapa kelompok untuk memecahkan suatu masalah atau untuk menyerahkan suatu pekerjaan yang perlu dikerjakan bersama-sama. Metode ini berguna untuk meningkatkan rasa persaudaraan serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses belajar mengajar.

7. Metode Sosiodrama.
Metode ini semacam drama atau sandiwara, namun tidak disiapkan naskahnya terlebih dahulu atau banyak melakukan improvisasi di dalamnya. Metode ini lebih banyak berpengaruh terhadap perubahan sikap kepribadian anak. Metode ini dapat diterapkan untuk menjelaskan materi sirah nabi SAW dan sejenisnya.


Dokumentasi:
RUMAH PENDIDIKAN SCIENA MADANI

Refrensi:

[1]  Tim Dosen IAIN Sunan Ampel-Malang, Dasar-Dasar Kependidikan Islam, hal. 125.
[2]  H.M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, hal. 44. 
[3]  Ibid,  hal. 45.
[4] Zainuddin Abi al Farj al Baghdadi, Jāmi’ al ‘Ulūm Wa al Hikām, (Jakarta: Dinamika Berkah Utama, t.t.), hal. 21.  
[5]  Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlak, cet. IV (Yogyakarta: LPPI, 2001), hal. 6.
[6]  Zakiah Daradjat, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bina Aksara, 1996), hal. 58.
[7]  Roestiyah NK., Didaktik, Metodik, cet. V (Jakarta: Bumi Aksara, 1998), hal. 68.
[8]   Zakiah Daradjat, dkk, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, hal. 289.
[9]   Roestiyah NK.,  Didaktik, Metodik, hal. 20.
[10]   Hadari Nawawi, Pendidikan Dalam Islam, hal. 263.
[11]   Zakiah Daradjat, dkk, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, hal. 298.
Share on Google Plus

About Warta Madani

SCIENA MADANI - Pesantren Cinta dan Karya. Media Online Peradaban