Pengaruh Filsafat Dalam Pendidikan Islam



I.          PENDAHULUAN
Dalam rangka menggali, menyusun dan mengebangkan pemikiran kefilsafatan dalam pendidikan terutama pendidikan Islam, bahwa kefilsafatan itu harus bersifat sistematis, radikal, universal dan spekulatif tentang pendidikan, dan tidak hanya difokuskan pada ilmu pengetahuan agama Islam saja melainkan pada ilmu-ilmu lain yang relevan. Sebagai hasil corak khas Islam, bahwa filsafat dalam pendidikan adalah konsep berfikir tentang pendidikan yang bersumber atau berlandaskan pada ajaan Islam dan mengarahkan kita pada proses pelaksanaan pendidikan Islam. Oleh karena itu harus memberikan gambaran sampai dimana proses tersebut dilaksanakan dan direncnakan. Contohnya pendidikan di negara Amerika bahwa pendidikan di Amerika ini secara bertahap dan sudah ditandai adanya sentralisasi pendidikan termasuk kurikulumnya.
Filsafat dalam dunia pendidikan ini bertugas untuk melakukan kritik-kritik tentang metode yang digunakan dalam proses pendidikan dan sekaligus memberikan pengarahan yang mendasar tentang bagaimana metode tersebut harus didayagunakan atau diciptakan agar efektif untuk mencapai tujuan. Dan filsafat dalam dunia pendidikan ini sangat penting karena filsafat ini menjadi landasan strategis dan kompas jalannya pendidikan khususnya pendidikan Islam. Oleh karena itu dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai dasar-dasar filsafat yang menjadi acuan pada pendidikan khususnya pendidikan Islam di negara-negara berkembang. Disini pemaklah hanya menyinggung sedikit tentang pendidikan di Amerika.





II.       PEMBAHASAN
A.    Pengertian Filsafat dan Pendidikan
Istilah filsafat dapat ditinjau dari dua segi:
1.      Segi sistematik, filsafat berasal dari kata arab (حب الحكمة  ) yang berarti cinta akan hikmah/ilmu. Dan berasal dari bahasa Yunani “philo sophia” yang berarti pengetahuan, hikmah (wisdom). Jadi philosophia berarti cinta pada kebijaksanaan atau cinta pada kebenaran, orang yang cinta kepada pengetahuan disebut philosopher ( فيلسوف  ).
2.      Segi praktis, filsafat adalah alam pikiran / alam berpikir, bahwa berfilsafat adalah berfikir secara mendlam dan sungguh-sungguh.
Filsafat juga sebagai ilmu yang didalamnya mengandung empat pertanyaan: bagaimanakah, mengapakah, kemanakah dan apakah. Dengan 4 pertanyaan tersebut ada 3 jawaban yang diperoleh dalam jenis pengetahuan:
1.      Pengetahuan yang timbul dari hal-hal yang selalu berulang-ulang (kebiasaan) yang nantinya pengetahuan tersebut dapat dijadikan pedoman.
2.      Pengetahuan yang timbul dari pedoman yang terkandung dalam adat istiadat yang berlaku dalam masyarakat.
3.      Pengetahuan yang timbul dari pedoman yang dipakai (hukum) sebagai suatu hal yang dijadikan pegangan.
Para filosof berpendapat mengenai pengertian filsafat:
1.      Konsep Rene Descartes
Filsafat adalah merupakan kumpulan segala pengetahuan, dimana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok penyelidikannya.
2.      Konsep Perancis Bacon                                                                                                      
Filsafat adalah merupakan induk agung dari ilmu-ilmu dan filsafat menangani semua pengetahuan sebagai bidangnya.



3.      Konsep John Dewey (tokoh pragmatisme)
Filsafat adalah suatu pengungkapan mengenai perjuangan manusia secara tersu menerus dalam upaya melakukan penyesuaian berbagai tradisi diantara yang lama dan yang baru dalam suatu kebudayaan.[1]
Pendidikan adalah bimbingan atau usaha sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si pendidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Ada juga beberapa filosof mengemukakan pengertian filsafat yang kaitannya dengan masalah pendidikan.
a.       John Dewey memandang pendidikan adalah sebagai salah satu proses pembentukan kemampuan dasar yang fundamental baik menyangkut daya pikir (intelektual) maupun daya perasaan/emosional) yang menuju ke arah tabiat manusia. Maka dari itu filsafat pendidikan dapat juga diartikan sebagai teori umum pendidikan. John Dewey juga memandang bahwa ada hubungan yang erat antara filsafat dengan pendidikan.
b.      Van Cleve Morns menyatakan bahwa pendidikan adalah studi filosofis karena ia pada dasarnya menyeluruh kepada setiap generasi tetapiia juga menjadi agen (lembaga) yang melayani hati nurani masyarakat dalam mencapai hari atau masa depan yang lebih baik. Jadi tugas dan fungsi pendidikan adalah harus dapat menyerap, mengelola danmengalisa seta menjabarkan aspirasi dan idealis masyarakat ke dalam jiwa generasi penerusnya.
Dengan demikian, filsafat dalam dunia pendidikan adalah filsafat yang memikirkan tentang masalah kependidikan. Untuk menyelesaikan permasalahan kependidikan, ada 3 disiplin ilmu yang membantu filsafat dalam pendidikan yaitu:
a.       Etika atau teori tentang nilai
b.      Teori ilmu pengetahuan atau epistimologi
c.       Teori tentang realitas atau kenyataan dan yang ada dibalik kenyataan yang disebut metafisika.
Menurut W.H. Kilpatrick filsafat dalam pendidikan mempunyai 3 tugas pokok:
1.      Memberikan kritik-kritik terhadap asumsi yang dipegang oleh para pendidik.
2.      Membantu memperjelas tujuan-tujuan pendidikan.
3.      Melakukan evaluasi secara kritis tentang berbagai metode pendidikan yang dipergunakan untuk mencapai tujuan-tujuan kependidikan yang telah dipilih.
Adapun pola dan sistem pemikiran filosofis kependidikan yang berdimensi mikro adalah yang menyangkut proses pendidikan yang meliputi 3 faktor yaitu: pendidik, anak didik dan alat-alat pendidikan yang bersifat materiil maupun non materiil. Dengan demikian akan tampak jelas bahwa hasil pemikiran filsafat tentang pendidikan Islam itu merupakan pattern of mind (pola pikir) dari pemikir-pemikir yang bernafaskan Islam atau berkepribadian muslim.[2]
Dan beberapa faedah mengenai filsafat dalam pendidikan:
1.      Agar terlatih berfikir serius
2.      Agar mampu memahami filsafat
3.      Agar mungkin menjadi filosof
4.      Agar menjadi warga negara yang baik.[3]

B.     Dasar atau Tujuan Filosofi dalam Pendidikan
Dasar individual dan dasar sosial dapat kita peroleh melalui berfikir secara induktif berdasarkan kenyataan atau realita yang terdapat pada individu atau masyarakat. Maka dasar filosofi ini kita peroleh melalui berfikir deduktif yang berdasarkan pada hal-hal yang umum yaitu kebenaran dan hasil refleksi atau perenungan di dalam filsafat selanjutnya yang diterapkan pada hal yang khusus di dalam masalah-masalah pendidikan. Misalnya tujuan pendidikan dapat kita tentukan berdasarkan pandangan tentang hakikat manusia sebagai hasil perenungan di dalam filsafat kemanusiaan / antropologi.
Menurut prof. Kohustamin bahwa pendidikan adalah usaha untuk membentuk manusia tidak hanya memperoleh dasar dan tujuannya dengan berdasarlan pada kebutuhan masyarakat melainkan juga dapat menentukan dasar dan tujuan secara apriori yaitu berdasarkan pandangan terhadap manusia (mensbeschuwing) yang berlaku dalam tiap-tiap masyarakat.
Tujuan pendidikan secara filosofi maka sebenarnya kita telah memasuki persoalan yang menjadi salah satu sasaran yang utama dan filsafat dimana terdapat pertemuan antara pandangan filosofis dan pandangan paedagogik antropologi, dimana pendidikan dalam menentukan tujuannya itu banyak mendapat bantuan dari filsafat ini. Sebab di dalam tujuan pendidikan kita mempersoalkan manusia atau bagaimana manusia itu akan mencapai pendidikan yang telah dicita-citakan.[4]
Menurut Rene Descartes ada 4 langkah dalam mencapai tujuan atau dasar berfikir yang rasionalistis dalam pendidikan:
1.      Tidak boleh menerima begitu saja hal-hal yang belum diyakini kebenarannya, tetapi harus secara hati-hati mengkaji hal-hal tersebut sehingga pikiran kita menjadi jelas dan terang.
2.      Menganalisis dan mengklasifikasikan setiap permasalahan melalui pengujian yang teliti ke dalam sebanyak mungkin bagian yang diperlukan bagi pemecahan yang edequat (memadai)
3.      Menggunakan pikiran dengan cara demikian, diawali dengan menganalisis sasaran-sasaran yang paling sederhana dan paling mudah untuk diungkapkan.
4.      Dalam tiap permasalahan dibuat uraian yang sempurna serta dilakukan peninjauan kembali secara umum.
Bila dilihat dari segi filosofis maka tujuan pendidikan dapat diklasifikasikan menjadi dua macam:
1.      Tujuan teoritis yang bersasaran pada pemberian kemampuan teoritis kepada anak didik.
2.      Tujuan praktik yang mempunyai sasaran pada pemberian kemampuan praktik anak didik.
Bahwa filsafat dalam pendidikan yaitu mempunyai tugas untuk menemukan hakikat pendidikan akan berakhir pada penemuan masalah praktis yang ditelusuri dari masalah-masalah teoritis, walaupun tidak semua masalah praktis tersebut dapat dipecahkan oleh filsafat pendidikan. Namun ruang lingkup tugas filsafat pendidikan berada pada permasalahan teoritis dan praktis kependidikan.[5]
Dengan dasar filsafat dapat memberikan arah dan kompas terhadap tujuan pendidikan Islam sehingga susunan kurikulum pendidikan Islam mengandung suatu kebenaran, terutama nilai-nilai sebagai pandangan hidup yang diyakini kebenarannya. Secara umum dasar filsafah ini membawa rumusan pendidikan termasuk kurikulumnya harus beranjak dari konsep ontology, epistimologi dan aksiologi yang digali dari  pemikiran manusia muslim yang sepenuhnya tidak bertentangan dengan nilai-nilai asasi ajaran Islam.[6]
Beberapa aliran mendeskripsikan mengenai tujuan pendidikan itu tidak sama, ada yang progressive (tujuan pendidikan untuk menjadikan anak didik yang berkualitas dalam menghadapi tantangan zaman), essensialisme (untuk membentuk pribadi bahagia di dunia dan akhirat) dan perennialisme (menciptakan anak didik yang mampu dan mengenal peristiwa penting). Menurut Prof. Athiyah Allah SWT-Abrasyi menyimpulkan tujuan asasi bagi pendidikan Islam diuraikan dalam karyanya “Attarbiyah Allah SWT-Islamiyah wa falsafatuha” ( التربية الاسلا مية وفلسفبها  ) adalah sebagai berikut:
a.       Untuk mengaktualisasikan pembentukan akhlak yang mulia
b.      Sebagai persiapan untuk kehidupan dunia dan akhirat
c.       Menumbuhkan ruh ilmiah (scientific spirit) pada pelajaran dan memuaskan keinginan hati untuk mengetahui dan mengkaji ilmu sebagai ilmu.
d.      Menyiapkan pelajar dari segi profesionalisme, teknis dan berusaha untuk menguasai profesi tertentu.
e.       Untuk mempersiapkan kehidupan perekonomian.
Dari landasan filosofis maupun dasar serta tujuan pendidikan di atas, maka disusunlah kurikulum yang tetap sejalan dengan berbagai perspektif tersebut. Cirri-ciri kurikulum tersebut adalah menonjolkan tujuan agama (akhlak) yang termuat di dalam metode, teknis, alat pendidikan yang bercorak keagamaan dan segala yang diajarkan dan diamalkan dalam lingkungan berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah.[7]

C.     Pendidikan Islam Ditinjau Dari Pandangan Filsafat Di Negara Amerika
Dalam makalah ini kami hanya menjelaskan sedikit tentang pendidikan di amerika. Bahwasanya pendidikan di Amerika dilakukan secara bertahap yaitu pada tahun 1980-an, pendidikan di Amerika sudah bangkit kembali akan adanya kesadaran dan pentingnya pengelolaan pendidikan pada tingkat sekolah. Pada era itu merupakan kelanjutan reformasi yang terjadi pada tahun 1970-an. Pada saat itu sekolah-sekolah di distrik menerapkan sistem side based management dan ditandai dengan adanya sentralisasi fungsi-fungsi pendidikan pada tingkat pusat, mencakup kurikulum dan ujian nasional, yang selanjutnya dilakukan pengurangan keterlibatan pemerintah pusat dan pemerintah federal. Sistem pendidikan di Amerika Serikat, mula-mula secara konstitusional pemerintah pusat (siate) bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan dan pemerintah daerah (discrit) hanya sebagai unit pembuatan kebijakan dan administrasi. Pemerintah federal memiliki peran yang terbatas bahkan semakin berkurang perannya. Perannya hanya dibatasi terutama pada era khusus, yaitu dukungan pendanaan.
Di Amerika muncul berbagai rekomendasi baik dari individu maupun organisasi dengan adanya rekomendasi itu kemudian muncul adanya sistem MBS (manajemen berbasis sekolah) karena dengan MBS ini pemerintah yakin bahwa penyerahan pengelolaan sumber daya ke tingkat sekolah akan membuat kemajuan. Hal ini karena sekolah memiliki kebebasan mencurahkan energi kreatifnya dan sekolah dapat mengemangkan diversifikasi pendekatan dan strategi untuk mencapai tujuannya.[8]
Amerika Serikat yang menjadi pelopor sistem demokrasi liberal di dunia, mengetengahkan tujuan pendidikan pada terbentuknya manusia warga negara yang demokratis dan warga negara yang baik serta memiliki efesiensi sosial dan kehidupan ekonomi yang bermutu. Bahwa manusia ideal yang hendak dibentuk melalui proses kependidikan adalah manusia yang berjiwa demokratis, taat kepada peraturan perundangan negara selaku warga negara serta memiliki kompetensi dalam mengelola kehidupan ekonomi yang bernilai cukup tinggi.
Idealitas pendidikan di Amerika adalah diawarnai oleh paham filsafat pragmatisme, terutama dari John Dewey, seorang filosof pendidikan yang kenamaan di dunia. Faktor moral dan keagamaan tidak tercermin dalam sistem nilai yang dilibatkan dalam rumusan tujuan pendidikan, oleh karena pragmatis tidak mengenal nilai-nilai keagamaan. Ia bercorak sekularistis artinya nilai hidup keagamaan tidak mendapatkan tempat di dalam kehidupan cultural masyarakat Amerika. Bagi pragmatisme tidak ada nilai spiritual atau ideal, yang transcendental. Nilai-nilai spiritual cukup ditafsirkan sebagai hal yang tabi’i (natural), manusiawi, dan sosial.[9]

D.    Pendekatan Filosofis Dalam Pendidikan Islam
Berdasarkan pendekatan filosofis, pendidikan Islam dapat diartikan sebagai studi proses tentang kependidikan yang didasari dengan nilai-nilai ajaran Islam menurut  konsepsi filosofis, yang bersumber pada Al-Qur'an dan Al-Hadits. Pendekatan filosofis ini memandang bahwa manusia adalah makhluk rasional atau homo rasional sehingga segala sesuatu yang menyangkut pengembangannya didasarkan pada sejauh mana pengembangan berfikir dapat dikembangkan. Dengan pendekatan ini dapat dicontohkan ketika guru mengajar, yaitu ketika menjelaskan tentang terjadinya penciptaan alam dan lain-lain, dalam Al-Qur'an juga memberikan konsep secara konkrit dan mendalam, terbukti dengan adanya penghargaan Allah SWT. Kepada manusia yang selalu menggunakan pemikirannya (rasio). Tujuan pendekatan ini dimaksudkan agar siswa dapat menggunakan pemikiran (rasio) seluas-luasnya sampai titik maksimal dari daya tangkapnya, sehingga siswa terlatih untuk terus berfikir dengan menggunakan kemampuan berfikirnya.[10]
Pendekatan filosofis ini juga dihadapkan kepada aliran idealisme dimana suatu aliran yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan jiwa dan ruh. Istilah idealisme diambil dari kata ideal yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Pandangan ini telah dimiliki oleh Plato dan pada filsafat modern yang dipelopori oleh J.G. Fichte, Sckelling dan Hegel, dan idealisme ini mempunyai argumen epistimologi tersendiri. Oleh karena itu tokoh-tokoh teisme yang mengajarkan bahwa materi tergantung pada spirit tidak disebut idealis karena mereka tidak menggunakan argumen epistimologi yang digunakan oleh idealisme. Idealisme secara umum selalu berhubungan dengan rasionalisme, yaitu madzhab epistimologi yang mengajarkan bahwa pengetahuan apriori atau deduktif yang dapat diperoleh manusia dengan akalnya, lawan rasionalisme dalam epistimologi ialah empirisme yang menyatakan bahwa pengetahuan bukan diperoleh lewat rasio (akal) melainkan melalui pengalaman empiris. Orang-orang empirisme amat sulit menerima paham bahwa semua realitas adalah mental atau tergantung pada jiwa atau roh. Plato sering disebut sebagai seorang idealis  sekalipun idenya tidak khusus (spesifik) mental, tetapi lebih merupakan objek universal. Akan tetapi ia berpendapat dengan idealisme modern mengajarkan bahwa hakikat penampakan (yang tampak) itu berwatak (khas) spiritual.[11]
Rasionalisme/mazhab epistimologi menurut Descartes yaitu bahwa akal (reason) adalah alat terpenting untuk memperoleh pengetahuan, jadi suatu pengetahuan diperoleh dengan cara berfikir. Makanya rasionalisme ini lawan dari empirisme, hanya saja empirisme mengatakan bahwa pengetahuan diperoleh dengan jalan mengetahui objek empiris. Sedangkan rasionalisme atau epistimologi kalau dilihat dari sudut pandang teoritik filosofik ini diharapkan dapat menelorkan panduan tentang logika pendidikan Islam sedangkan telaah empirik diharapkan dapat menemukan format metodologis untuk melakukan pengujian terhadap validitas prediktif dari teori kependidikan Islam serta dapat mengangkat danmenggeneralisasikan phnomena empirik kependidikan yang semula bersifat hepotik menjadi sifat teoritik.
Epistimologi memandang ilmu sebagai proses, bagaimana ilmu tumbuh, berkembang dan dapat dibuktikan kebenarannya secara ilmiah oleh masyarakat ilmu. Elemen epistimologi ilmu itu meliputi 3 masalah dasar yaitu penelitian, logika, dan sistematika ilmu, dan proses pembuktian kebenaran ilmu. Salah satu faktor yang menyebabkan lambatnya perkembangan ilmu-ilmu dalam Islam termasuk pendidikan adalah terhentinya proses eksploratif, sehingga ekspansi ilmu-ilmu dalam Islam hanya berhenti pada kawasan yang bersifat hubungan vertical kepada Allah dan hubungan horizontal terhadap sesama manusia. Logika ilmu pendidikan yang sekarang ini banyak dikembangkan adalah logika positivisme dengan aliran ps behavioristik dan dengan menggunakan logika new rationalism. Sedangkan untuk telaah wahyu menggunakan pendekatan maudhui. Sistematikan pendidikan Islam itu dikembangkan atas dasar ontologik yang melahirkan ilmu pendidikan normative, teoritik dan empirik, dan proses pembuktian terhadap pendidikan Islam itu tidak hanya menggunakan pendekatan koherensi dan korespondensi tetapi dapat pula menggunakan pendekatan penghayatan dan pemaknaan (urestehen).[12]

III.    ANALISIS
Pendidikan individu dari beberapa individu mempunyai filsafat sendiri dalam kehidupannya, untuk diterapkan di dalam pengembangan pembelajaran dan masalah pengajaran yang dihadapkan pada individu (siswa). Untuk menuntun ke arah pertumbuhan dan perkembangan bagi pemuda yang akan hidup di masyarakat (bangsa) yaitu sifat cinta tanah air dan mewujudkan kebahagiaan pada golongannya, serta mengambil hikmah untuk masyarakat dari perbedaan-perbedaan yang terjadi diantara rakyat.
Maka dari itu muncullah filsafat pendidikan, dan dengan filsafat kegiatan pendidikan yang terjadi di masyarakat menjadi berbeda walau tujuannya sama. Dan dari filsafat pula sekolah didirikan. Filsafat pendidikan bermakna meneapkan pandangan-pandangan, pemikiran filsafat yang berhubungan dengan kehidupan di dunia pendidikan dan peraturannya, dalam metode khusus dengan tujuan menggerakkan pemuda dan masyarakat supaya mendapatkan kehidupan yang bahagia, beradaptasi dengan manusia yang hidup bersamanya, meningkatkan taraf hidup dan kesemuanya itu merupakan tindakan (untuk mewujudkan tujuan pendidikan yang kita inginkan).
Kaitannya dengan pendidikan Islam, filsafat menempati tempat yang sentral guna menemukan hakikat pendidikan Islam yang sebenarnya. Pendidikan Islam berorientasi pada perubahan perilaku ke arah yang lebih baik sehingga dapat mencetak kader-kader bangsa yang berbudi luhur dan bertakwa kepada alh SWT. Oleh karena itu dengan berfikir secara filosofis, diharapkan pendidik dapat menemukan format pendidikan Islam yang ideal untuk tercapainya tujuan pendidikan Islam.

IV.    PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat penulis susun. Penulis sadar makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu saran dan kritik yang konstruktif sangat penulis harapkan demi kebaikan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat. Amin.  (Dok - Rumah Pendidikan Sciena Madani)



Sumber bacaan:

[1] Drs. H. Ahmad Syadali, M.A., Filsafat Umum, Bandung: CV. Pustaka Setia, 1997, hlm.16-17.
[2] Prof. H. Muzayyin Arifin, M.Ed. Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2003, hlm.9-10.
[3] Prof. Dr. Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 1990, hlm.
[4] Drs. Suwarno, Pengantar Umum Pendidikan, Jakarta: Aksara Baru, 1982, hlm.44-45.
[5] Prof. H. Muzayyin Arifin, M.Ed., Op.cit., hlm.20-22
[6] DR. H. Samsul Nizar, M.A., Filsafat Pendidikan Islam; Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, Jakarta: Ciputat Press, 2002, hlm.58.
[7] H. Ahmad Syar’i, M.Pd., Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2005, hlm.120-122
[8] Drs. Nur Kolis, M.Pd., Manajemen Berbasis Sekolah; Teori, Model dan Aplikasi, Jakarta: PT Grasindo, 2003, hlm.90-91.
[9] Prof. H. Muzayyin Arifin, M.Ed., Op.cit., hlm.119.
[10] DR. Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Press, 2002, hlm.100.
[11] Drs. H. Ahmad Syadali, Op.cit., hlm.110.
[12] Drs. H.M. Chabib Toha, M.A., Kapita Selekta Pendidikan Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996, hlm.149.
Share on Google Plus

About Warta Madani

SCIENA MADANI - Pesantren Cinta dan Karya. Media Online Peradaban