Select Menu

clean-5

Kabar Sciena Madani

Budaya

Kuliner

Kerajaan

kota

Suku

» » DAKON; Filosofi dan Nilai Pendidikan Permainan Dakon



DAKON/CONGKLAK permainan tradisional yang satu ini pasti pernah dimainkan oleh kaum hawa pada saat masih kecil. Congklak memang punya beberapa nama, seperti dakon, bantumi, atau juga disebut Mancala. Congklak dikenal sebagai permainan tradisional masyarakat Jawa, walaupun permainan ini juga banyak ditemukan di daerah lain.

Nama dakon dari beberapa daerah
Di Malaysia permainan ini lebih dikenal dengan nama congklak dan istilah ini juga dikenal di beberapa daerah di Sumatera dengan kebudayaan Melayu. Di Jawa, permainan ini lebih dikenal dengan nama congklak, dakon, dhakon atau dhakonan. Selain itu di Lampung permainan ini lebih dikenal dengan nama dentuman lamban sedangkan di Sulawesi permainan ini lebih dikenal dengan nama Mokaotan, Maggaleceng, Aggalacang dan Nogarata. Dalam bahasa Inggris, permainan ini disebut Mancala.

Permainan congklak merupakan permainan trsdisional adat jawa. Menurut sejarah permainan ini pertama kali dibawa oleh pendatang dari arab yang rata-rata datang ke Indonesia untuk berdagang atau berdakwah. Pada umumnya jumlah lubang keseluruhan adalah 16 yang dibagi menjadi 7 lubang kecil dan 2 lubang tujuan (masing-masing satu untuk setiap pemain). Skor kemenangan ditentukan dari jumlah biji yang terdapat pada lubang tujuan tersebut.

Setiap pemain mengambil semua biji yang terdapat pada lubang kecil yang di inginkan, untuk disebar satu biji per lubang berurutan searah jarum jam. Langkah tersebut dilakukan berulang. Apabila pada lubang terakhir meletakkan biji masih ada isinya (lubang tersebut tiddak kosong) maka pemain tersebut melanjutkan dengan mengambil semua biji yang terdapat pada lubang tersebut dan melanjutkan permainan. Apabila peletakan biji terakhir berada pada lubang yang kosong maka pemain tidak dapats melanjutkan langkah dan tidak mendapat apas-apa, Giliran untuk bermain ke lawan.

Permainan dianggap selesai bila sudah tidak ada lagi yang dapat diambil (seluruh biji ada di lobang besar kedua pemain).  Pemainnya adalah yang mendapatkan biji terbanyak.

Permainan ini memerlukan dua orang pemain, sebuah papan congklak, dan biji untuk pengisi masing- masing lubang. Lubang pada papan congklak berjumlah 16 buah. Masing- masing sisi papan congklak memiliki 7 lubang dan 2 lubang lainnya berada pada ujung papan congklak yang biasa disebut dengan lumbung atau induk. Bermain congklak diperlukan biji untuk mengisi lubang pada papan congklak, biasanya yang digunakan adalah biji sawo, kenitu atau kopi. Namun, yang paling banyak digunakan adalah biji sawo. 
Kenapa? Karena biji sawo lebih mudah ditemukan, selain itu pada zaman dahulu selalu terdapat pohon sawo di setiap pekarangan rumah, alasan lain biji sawo yang dinamakan kecik ini secara visual memang tampak lebih eksotik.

Untuk permainan congklak ini diperlukan 98 biji sawo. Masing- masing sisi congklak yang memiliki 7 buah lubang, diisi dengan 7 biji. Jadi, masing- masing pemain memiliki 49 biji kecik yang siap dimainkan. Sedangkan lubang yang berada pada ujung papan congklak dikosongkan untuk menampung sisa biji ketika permainan dijalankan.

Pada masyarakat tradisional Jawa, congklak biasa dimainkan oleh anak- anak hingga dewasa, terutama wanita, karena permainan ini identik dengan dunia wanita. Tidak ada yang tahu kenapa permainan ini identik dengan wanita, namun menurut beberapa pendapat permainan ini identik dengan manajemen atau pengelolaan keuangan. Disadari atau tidak kaum hawa memiliki peranan penting dalam pengelolaan keuangan rumah tangga. Congklak ini dianggap sebagai sarana pelatihan untuk memanajemen keuangan dalam rumah tangga nantinya.

Filosofi permaianan dakon
Pada papan congklak terdapat 7 lubang dan masing- masing berisi 7 biji, 7 adalah jumlah hari dalam satu minggu. Jumlah biji yang ada pada lubang kecilpun sama. Artinya, tiap orang mempunyai waktu yang sama dalam seminggu, yaitu 7 hari.

Ketika biji diambil dari satu lubang, ia mengisi lubang yang lain, termasuk lubang pada lumbung. Pelajaran dari fase ini adalah, setiap hari yang kita jalani, akan berpengaruh pada hari-hari kita selanjutnya, dan juga hari-hari orang lain. Apa yang kita lakukan hari ini menentukan apa yang akan terjadi pada masa depan kita. Apa yang kita lakukan hari ini bisa jadi sangat bermakna bagi orang lain.

Ketika biji diambil, kemudian diambil lagi, juga berarti bahwa hidup itu harus memberi dan menerima. Tidak selalu mengambil, namun juga memberi. Untuk keseimbangan hidup.

Biji diambil satu persatu, tidak dapat diambil sekaligus. Maksudnya, kita harus jujur untuk mengisi lubang pada papan congklak kita. Kita harus jujur mengisi hidup kita. Satu persatu, sedikit demi sedikit, asalkan jujur dan baik, lebih baik daripada banyak namun tidak jujur. Satu persatu biji yang diisi juga bermakna bahwa kita harus menabung tiap hari untuk hari-hari berikutnya. Kita juga harus mempunyai “saving”, yaitu biji yang berada di lubang induk.

Strategi diperlukan dalam permainan ini agar biji kita tidak habis diambil lawan. Hikmahnya adalah, hidup ini adalah persaingan, namun bukan berarti kita harus bermusuhan. Karena tiap orang juga punya kepentingan dan tujuan yang (mungkin) sama dengan tujuan kita, maka kita harus cerdik dan strategis.

Pemenang adalah yang jumlah bijinya di lubang induk paling banyak, maksudnya adalah mereka yang menjadi pemenang/ mereka yang sukses adalah mereka yang paling banyak amal kebaikannya. Mereka yang banyak tabungan kebaikannya, mereka yang menabung lebih banyak, dan mereka yang tahu strategi untuk mengumpulkan rezeki.

Permainan ini sesungguhnya merupakan serpihan kecil dari unsur pembentuk budaya dan karakter bangsa. Dengan permainan ini kita bisa mengambil manfaat yang terkadang kita sendiri tidak menyadarinya. Congklak melatih kita untuk terampil, cermat, jujur, sportif, tepa selira, dan menimbulkan rasa akrab antara sesama.

Nilai pendidikan permainan dakon
Dari permainan Congklak ini bisa mendatangkan manfaat sebagai berikut:
1.       Sarana pelatihan terhadap pengelolaan atau manajemen keuangan.
2.       Melatih untuk terampil dan cermat.
3.       Melatih jiwa sportif, jujur, adil, tepa selira dan akrab dengan orang lain
4.       Menjalin kearaban  dan melatih motorik anak


REFRENSI:
Selviana Noerita; Majalah Kampus Gelora Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang
http://dakononline.blogspot.com/2010/11/sejarah-permainan-congklak.html

About Warta Madani

SCIENA MADANI - WATA MADANI; Rumah Pengabdian dan Kajian Sosial dan Budaya.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Leave a Reply

Kajian