Select Menu

clean-5

Kabar Sciena Madani

Budaya

Kuliner

Kerajaan

kota

Suku

Syafii Maarif Dukung Capres Dari Kalangan Tokoh Islam

WM Yogyakarta – Sejumlah tokoh dan Aktivis Islam Yogyakarta yang hadir dalam dialog terbuka di kampus UGM dengan tema “Ummat Menggugat; Suara Ummat Untuk Indonesia”, mendorong agar partai-partai politik berbasis massa Islam bersatu dan mendorong capres–cawapres dari tokoh Islam.

Menurut Buya Syafii Maarif, perolehan suara partai berbasis massa Islam diluar prediksi banyak mengami jumlah penerunan suara. Akan tetapi ternyata partai politik berbasis massa Islam masih dipercaya oleh umat Islam. Oleh karena itu, perolehan suara tersebut harus dipergunakan sebaik-baiknya. Partai politik berbasis massa Islam perlu bersatu, mengusung agenda kepentingan umat Islam, dan mengusung calon presiden dari kalangan tokoh Islam.

“Koalisi partai berbasis massa Islam dapat terwujud, tutur Syafi’I Maarfi.

Syafi’I Maarif menuturkan, yang harus diusung sebagai calon presiden adalah tokoh diluar partai Islam, tapi yang memiliki komitmen dan keberpihakan terhadap bangsa dan umat Islam. Jika semua partai politik berbasis masa Islam bersikukuh mengusung calonnya sendiri-sendiri, maka koalisi partai politik berbasis massa Islam tidak akan terbentuk. Partai politik berbasis massa Islam harus berbesar hati mengusung tokoh Islam non parpol yang netral, yang bisa diterima oleh semua pihak. (wm1 - Nata Wirasana)

Umat Islam Yogyakarta Menggugat Partai Islam

WM Yogyakarta – Sejumlah took danaktivis Islam Yogyakarta hari ini (Kamis/17) menyelenggarakan dialog terbuka di UGM dengan tema “Ummat Menggugat; Suara Ummat Untuk Indonesia”. Acara dialog tersebut didasari oleh keprihatinan tokoh dan aktivis Islam di Yogyakarta terhada pmanuver-manuver politik yang dilakukan oleh elit-elit politik partai politik berbasis massa Islam akhir-akhir ini.

Buya Syafii Maarif, Rohmat Wahab, Ust. Jazier, Ust. Sunardi Sahuri, perwakilan NU, Muhammadiyah, Majlis Mujahidin, PPP, PKS, dan ratusan aktivis Islam hadir dalam acara tersebut.

“Pada dasarnya kami prihatin dengan perilaku politik pimpinan partai politik berbasis massa Islam. Mereka telah mendapat suara lebih dari 30 persen dalam pemilu legislatif yang lalu, tetapi mereka seolah mengabaikan dukungan umat Islam. Mereka seolah mendapat cek kosong, lalu mereka mengisi jumlahnya sendiri dan menggunakannyauntuk memenuhi kepentingannya sendiri. Ungkap Zulkifli Halim, Ketua Presidium Solidaritas Umat Islam (SOMASI) Yogyakarta.

Lebih lanjut menurut Zulkifli, elit dan pimpinan partai politik berbasis massa Islam yang telah mengantongi suara 30 persen tersebut tidak syukur nikmat. Mereka seolah terlibat dalam pergaulan politik bebas yang bisa berakibat mengaburkan batas syariah dan melemahkan Aqidah Islamiyah. Mereka seolah akan melangkah kearah “ta’awanu ala litsmi wal udwan”yang justeru dilarang, seraya ragu bergerak kearah “ta’awanu alal birri wa ttaqwa” yang justeru diperintahkan Allah SWT.

“Solidaritas Ummat Islam (SOMASI) Yogyakarta akan merapatkan barisan dan menyatukan langkah untuk mendesak partai politik berbasis massa Islam untuk mengusung capres – cawapres dari tokoh Islam, tokoh Islam yang berkomitmen kuat untuk merubah nasib ummat dan bangsa, berkomitmen mengubah terhadap kaum mustadhafin”, tutup Lukman. (wm1 - Nata Wirasana)

Keluarga Pelajar Mahasiswa Brebes Gelar Bedah Buku Biografi Anies Baswedan

WM - Bebes - Pasca Pemilihan Legislatif, relawan pendukung Calon Presiden Peserta Konvensi Partai Demokrat Anies Baswedan yang mengatasnamakan dirinya Relawan Turun Tangan terus melakukan sosialisasi capresnya. Bekerjasama dengan Penerbit Zaman, mereka melakukan safari ke beberapa Kota.

Biografi Anies Baswedan “Melunasi Janji Kemerdekaan” yang terangkum dalam buku ini akan dibedah di belasan kota selama satu bulan, sejak 14 April hingga 14 Mei.


Safari ini akan membedah buku biografi Anies Baswedan dan menghadirkan penulis, Muhammad Husnil dan pembicara lokal. Anies sendiri akan mengisi diskusi buku ini pada 24 April mendatang di Yogyakarta.

Kegiatan ini disambut baik oleh masyarakat. Contohnya, dari Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah Brebes (KPMDB) Tegal dan Slawi (Bregas) yang melakukan bedah buku Kamis (17/4). 

“Buku biografi ini menarik dibaca, yang menggambarkan utuh sebagai manusia biasa dan penuh apa adanya dan memiliki nilai inspiratif bagi generasi bangsa ini,” kata Wijanarto, penikmat Histeriografi Indonesia modern sebagai pembedah. (wm1)

Sciena Madani Gelar Pengajian Kebudayaan Jelang Pemilu

Semarang - Menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) Rumah Pendidikan Sciena Madani bekerja sama dengan Gerakan Pemuda (GP) Ansor Banjardowo menggelar pengajian kebudayaan di halaman musola Ar-Rasyid Banjardowo. Acara ini membawakan tema, ”Dicari Wakil Rakyat yang Merakyat, Dialektika Politik Transaksional.” Acara yang berlangsung pada Sabtu malam (5/3), pukul 20.00 dibuka dengan pembacaan puisi oleh Basa Basuki, Aditya D. Sugiarso, Sugi Teater Beta dan Bambang Eka Prasetya, sastrawan asal Magelang.

Lukni Maulana, pengasuh Sciena Madani mengatakan pengajian ini bertujuan memberikan pendidikan politik bagi masyarakat dengan penyadaran bahwa musuh terbesar kita adalah neoliberalisme.

Djawahir Muhammad didapuk menjadi pembicara mengatakan, wakil rakyat yang paham kepentingan rakyat dan hajat negara sekarang sangat sedikit. Selebihnya mereka hanyalah bermain-main.

Mantan Sekretaris Umum Dewan Kesenian Jawa Tenga (DKJT) yang juga pernah menjadi anggota DPRD Jawa Tengah menambahkan, justru banyak yang tidak malu berkampanye anti korupsi meskipun ia sendiri pelaku.

“Indikasinya politik uang:, wani piro? Wani pora?,”terangnya.

Lukman Wibowo, pembicara kedua yang menyatakan dirinya Golongan Putih (Golput) sangat menyayangkan adanya politik anggaran, terutama di bidang pembangunan. Ia juga menilai pemerintah kalah dengan perusahaan asing yang merugikan negara.

Selanjutnya ia memaparkan tesis kita yang keliru, di mana melulu memikirkan diri sendiri. Ia mengambil contoh lain, orang-orang berlumba menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) hanya demi besarnya bayaran, bukan pengabdian.

”Bahkan ada yang sampai sogok menyogok,” jelasnya.

Aktifis yang pernah menjadi kader HMI Semarang berterus terang merasa pesimis menghadapi kondisi negeri yang carut marut. Tersebab pola pikir yang salah kaprah, terutama pejabat.

”Maka saya tetap menyatakan diri, golput,” tegasnya.

Djawahir mengajak para hadirin, yang banyak kalangan pemuda untuk mencermatinya melalui analisis manfaat dan madharat. Sehingga bisa memutuskan sendiri golput atau tidak.

“Asal jangan golput, golongan penerima uang tunai,”kelakarnya.

Djawahir juga berpesan kepada para pemuda agar jangan pesimis melanjutkan perjuangan negeri.

”cukup bersikaplah profesional dan proporsional dari sekarang,”pesannya.

Diskusi sempat terhenti oleh gerimis, lalu dipindah di serambi musola Ar-Rasyid. (Faizun)


Sumber - http://b-assalam.blogspot.com/2014/04/sciena-madani-gelar-pengajian.html

Mencari Wakil Rakyat yang Merakyat?

Mencari Wakil Rakyat yang Merakyat? *
Oleh: Djawahir Muhammad *

Tentang fakta di lapangan
Dari sedikit pengalaman saya menjadi anggota DPR (Anggota Komisi E DPRD Provinsi Jawa Tengah 1997-1999 dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP), saya berkesimpulan bahwa pada prakteknya atau “secara praktis” wakil rakyat yang merakyat itu (nyaris) tidak ada! Hal ini didasarakan pada analisis beberapa data sebagai berikut:
1. Dalam sistem demokrasi yang berlaku di Indoensia, rekruitmen anggota DPR dilakukan melalui partai-partai politik karena partai politiklah satu-satunya lembaga yang berhak mengajukan calon anggota dewan. Jadi, pada prakteknya anggota dewan adalah presentasi dari partai politik, bukan presentasi atau wakil rakyat.
2. DPR yang secara ideologis merupakan lembaga aspirasi publik, seharusnya mempresentasikan fungsi-fungsi public service, tetapi kenyataannya sudah menjadi lapangan kerja yang bergaji tinggi dengan berbagai fasilitas yang tidak terjangkau rakyat biasa.
3. Cara-cara memperoleh suara bergeser dari pola leadership (kepemimpinan) ke pola transkasional, dari pola idealism ke pola pragmatism dan nepotisme. Kecenderungan ini mendorong praktik teori dagang sapi alias money politics : gua kasih uang, lu kasih suara. “Wani piro?, Wani pora?”. Implikasinya rakyat tidak terwakili oleh wakil yang “benar-benar wakil,” tapi terwakili oleh para manajer kampanye, juragan suara, politisi karbitan, lu lagi, lu lagi, politik dinasti dsb.
4. Anggota dewan kebanyakan lupa pada konsituennya, lupa pada janji-janji pengabdiannya. Cenderung mengambil semua gaji, bonus, tunjangan, dan macam-macam fasilitas yang diterima untuk dirinya sendiri (dan/atau keluarga dan kelomponya), lupa untuk berbagi pada rakyat yang diwakilinya.

Analisis
Ada beberapa pemahaman tentang “wakil rakyat” di negeri ini yang di negeri lain disebut senator semisal di Amerika Serikat. Di Amerika, calon-calon senator boleh mengajukan dirinya sendiri untuk dipilih secara bertingkat melalui konvensi yang dibuka oleh partai (Republic dan Demokrat). Mereka berkampanye dengan mengajak orang berdiskusi, melakukan orasi, dan rata-rata telah memiliki pekerjaan dengan gaji yang cukup mapan.

Filosof (calon) anggota senat di Amerika dan Indonesia sangat jauh berrbeda. Senator (calon senator) di Amerika memiliki filosofi demikian:

Analisis sederhana tersebut mengilustrasikan bagaimana sistem rekuitmen anggota dewan/senat yang berbeda antara neara denan demokrasi yang sehat (Amerika), dengan negara demokrasi yang “sakit” (Indonesia). Perbedaan itu dimulai dari modal dasar para kandidat (input) yang berbeda, menuju proses (anggota senat/dewan), kearah capaian (produk) yang berbeda: di Amerika capaiannya adalah kebutuhan aktualisasi diri (need of achieverment), sementara di Indonesia adalah mencari kekayaan materi.

Jadi dimana posisi “rakyat” dalam demokrasi kita?
Mari kita pertanyakan!

Semarang, 5 April 2014


* Disampaikan dalam acara Pengajian Kebudayaan Sciena Madani
* Djawahir Muhammad -  Mantan Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah 1997 - 1999

Pemilu 2014, Jika Golput Itu Pilihan

PEMILU ini pesta demokrasinya rakyat ataukah kaum borjuis? Apakah golput akan menjadi pilihan, tapi cukupkah dengan golput saja? Jika golput adalah pilihan, setelah golput harus bertindak bagaimana?

Acara diskusi terbuka, acara akan diselenggarakan pada:
Hari/Tgl: Kamis, 3 April 2014
Waktu: 19.00 Wib - selesai
Tempat: Kedai Kopi Sanutoke (Jl. Tusam Timur Pedalangan Banyumanik Semarang)

Bersama:
1. Firdaus (Serikat Mahasiswa Indonesia Wilayah Jateng)
2. Kang Putu (Aktifis Golput 92-Redaktur Harian Suara Merdeka)
3. Surya Anta (PPR/Komite Politik Alternatif Pusat)

Dimeriahkan pembacaan puisi:
1. Eko Tunas
2. Basa Basuki
3. dll

GP Ansor Genuk Siap Bekali Pendidikan Politik

WM SemarangPelanggaran partai politik maupun calon anggota legislatif (caleg) pada musim kampanye ini marak terjadi. Pembakaran dan perobekan peraga kampanye menjadi berita sehari-hari . Politik transaksional semakin mengemuka siapa yang memiliki uang bisa menjadi penguasa.

Prihatin dengan persoalan itu, Gerakan Pemuda (GP) Ansor Banjardowo dan Lesehan Ansor Genuk bekerja sama dengan Sciena Madani akan menyelenggarakan pengajian kebudayaan yang bertemakan, Dicari Wakil Rakyat yang Merakyat; Dialektika Politik Transaksional.

Kegiatan tersebut akan digelar di halaman Masjid “Iktikaf” Ar-Rasyid Banjardowo Semarang, Jawa Tengah pada hari Sabtu (5/4), pukul 20.00.

Menurut Sodikin Sekretaris PAC GP Ansor Genuk, pengajian kebudayaan ini akan memberikan pembekalan pendidikan politik bagi kader Ansor dan lapisan masyarakat. “Dengan nilai-nilai budaya menjadi solusi alternatif untuk mengawal politik yang sekarang ini lebih mengedepankan arus modal,” katanya, pada Jumat (28/3).

Pengajian Kebudayaan akan menghadirkan pembicara dari berbagai lapisan unsur dari budayawan, kiai, penyair, dosen dan aktivis. Pembicara yang akan memberikan materi yakni Djawahir Muhammad (budayawan Semarang), Alis Asikin (dosen IAIN Walisongo Semarang), Lukman Wibowo (aktivis 98 dan CEO Prolindo Group), Muhammad Ajib (NU dan Rektor Ma’had Aly Genuk), Basa Basuki (Penyair dan orang yang pertama kali mensuarakan golput di Semarang), Agus Munif (Ketua Badan Wakaf Nusantara dan pernah ceramah ke Luar Negeri dan acara ini akan dimeriahkan musik oleh Ansorun Nada dan pembacaan puisi oleh penyair.

“Semoga dengan pengajian kebudayaan ini menjadi wadah pengetahuan dan silatuhrami, dimana kita terjebak dengan warna pemilu sehingga lupa kegiatan dan pogram GP Ansor yan lebih mengedepankan pengabdiaan kepada masyarakat,” tutur Muslimin Ketua Ansor Ranting Banjardowo.

Sumber - http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,2-id,51076-lang,id-c,daerah-t,GP+Ansor+Genuk+Siap+Bekali+Pendidikan+Politik+Kader-.phpx

Kajian