Select Menu

clean-5

Kabar Sciena Madani

Budaya

Kuliner

Kerajaan

kota

Suku

Anies Baswedan Dukung Transparansi Pemerintahan Daerah

Peringkat terbaik mendapatkan penghargaan
WM Jakarta - Deputi Bidang Kesra Tim Transisi Jokowi, Anies Baswedan merespon dengan baik rilis Indonesia Governance Index (IGI) oleh Kemitraan Bagi Pembaruan Tata Pemerintahan (Kemitraan). Rilis tersebut berisi pengukuran tata kelola pemerintahan di 34 kabupaten/kota terpilih lewat berbagai tolak ukur. Peluncuran penelitian IGI ini dilakukan di Grand Ballroom Hotel Indonesia Kempinski pada Selasa (14/10) lalu.

Anies menilai bahwa apa yang dilakukan oleh IGI adalah sebuah upaya mendorong transparansi pemerintahan. “Seluruh dunia kini bergerak ke arah good governance, ini seperti zaman dulu ketika dunia bergerak pada penghapusan perbudakan.,” ujar Rektor Universitas Paramadina ini.

Menurutnya saat ini perkembangan menunjukkan di seluruh dunia bahwa sedang terjadi gerakan menghapus tata kelola pemerintahan yang buruk menuju tata kelola pemrintahan yang baik dan transparan. “Kita harus menjadi bagian dari gerakan positif tersebut, bahkan harus menjadi aktor-aktor pertama untuk mendukung gerakan itu,” tambahnya.

Bagi Anies apa yang dilakukan oleh IGI adalah ikhtiar awal sekaligus pijakan utama menuju tata kelola pemerintahan yang baik. “Untuk menuju perbaikan, tentu kita harus mengetahui di mana posisi kita saat ini. Penilaian sekaligus alat ukur menjadi penting. Agar ke depan kita dapat melakukan pembenahan-pembenahan yang sifatnya konkret,” ucap juru bicara Jokowi-JK dalam pilpres lalu ini.

IGI sendiri menyatakan bahwa rilis tata kelola pemerintahan ini ditujukan untuk mendorong pemerintahan yang transparan dan baik. “IGI diluncurkan untuk mengevaluasi dapur di daerah. Kita menggunakan 126 indikator yang bersumber dari dokumen publik, persepsi dari responden terpilih melalui kriteria yang ketat,” papar Lenny Hidayat, peneliti utama IGI.

Menurut Anies data IGI ini akan sangat berguna dalam tata kelola pemerintahan mendatang. “Pijakan pertama untuk melakukan langkah perbaikan ke depan,” tutupnya. 

Memahami Pluralisme Gus Dur

WM - Dalam sejarah perkembangan teori pluralisme, terdapat satu diktum menarik bahwa "keterlibatan aktual dalam sebuah kegiatan terbuka memiliki posisi yang lebih valid sebagai penanda sebuah kepemimpinan dibandingkan hanya sebuah reputasi."

Pernyataan ini terasa begitu mengena dalam praktek pluralisme di negara Indonesia. Maraknya kasus
kekerasan bernuansa agama dan semakin tingginya tingkat intoleransi di masyarakat menyebabkan sebagian masyarakat Indonesia merindukan kembali sosok pemimpin dan negarawan sekaliber Gus Dur, yang tidak hanya pandai beretorika tentang toleransi dan pluralisme, tetapi mengambil posisi terdepan dalam pembelaan terhadap berbagai kelompok minoritas yang termarjinalkan. Oleh karena itu, ide dan pemikiran Gus Dur tentang wacana toleransi dan pluralisme seakan tidak pernah kering
untuk selalu digali dan diimplementasikan dalam menghadapi berbagai masalah sosial-keagamaan yang muncul, khususnya sikap intoleransi dan berbagai bentuk kekerasan atas nama agama.

Hal ini disampaikan oleh Achmad Zainal Arifin, Ph.D. dalam Diskusi Serial Tokoh Pluralis Indonesia #1 yang diselenggarakan oleh BEM Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Sunan Kalijaga bekerjasama dengan AIFIS (American Institute for Indonesian Studies), pada hari Jumat, 19 September 2014 di UIN Sunan Kalijaga. Achmad Zainal Arifin, Ph.D, adalah alumnus Northearn Iowa University, Amerika dan University of Western Sydney, Australia, yang kini menjadi Ketua Pusat Pengembangan Ilmu Sosial dan Humaniora (PPISH), UIN Sunan Kalijaga.

Dalam kesempatan tersebut, Zainal menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang perlu dicatat berkenaan dengan upaya untuk memahami ide-ide Gus Dur secara umum. Pandangan Gus Dur tentang pluralisme tidak terdefinisikan secara sistematis, akan tetapi tersebar dalam berbagai
artikel dan bahkan lebih banyak berbentuk tindakan (aksi). Selain itu, Gus Dur seringkali dinilai sebagai sosok yang cukup kontroversial karena memiliki pola pikir yang berbeda dengan kebanyakan tokoh masyarakat, bahkan tidak sedikit yang menilai beliau tidak konsisten.

Lebih lanjut, Zainal menyampaikan bahwa setidaknya, ada dua gagasan besar dari Gus Dur yang bisa digunakan sebagai pintu masuk untuk memahami ide tentang pluralisme agama. Pertama, Pribumisasi Islam yaitu memperhatikan kebutuhan-kebutuhan lokal dalam merumuskan hukum agama tanpa merubah hukum itu sendiri. Kedua, Kemanusiaan Universal, di mana tema ini nampak begitu dominan dalam karya-karya Gus Dur dan menjadi pijakan bagi aksi-aksi Gus Dur dalam membela berbagai kelompok minoritas. Dari dua konsepsi tersebut setidaknya masyarakat bisa menarik satu benang merah bahwa bentuk pluralisme Gus Dur adalah model pluralisme sosial, bukan pluralisme teologis. Karenanya, Gus Dur masih tetap lekat sebagai pribadi Muslim yang berpegang teguh pada
ritual-ritual Islam, khususnya Islam tradisional.

Penguatan Akademik Melalui Roadmap Penelitian

WMKeunggulan sebuah perguruan tinggi dapat dilihat dari produktivitas penelitian dan publikasi karya ilmiah. Saat ini pergurun tinggi di Indonesia tengah berlomba-lomba mengembangkan tradisi akademik, pada umumnya, dan meningkatkan mutu penelitian dengan pelbagai skema dan program yang disediakan untuk para dosen dan penelitinya. Di tengah gairah penelitian yang semakin meningkat di kalangan para dosen dan peneliti, kebutuhan lain untuk memperkuat mutu penelitian adalah dengan penyusunan roadmap (peta jalan) penelitian yang jelas untuk para dosen, program studi serta penyusunan penelitian unggulan perguruan tinggi.

Hal ini disampaikan oleh Hilman Latief, Ph.D. dalam Workshop Roadmap Penelitian yang diselenggarakan oleh Laboratorium Agama dan Budaya Lokal (LABeL) UIN Sunan Kalijaga bekerjasama dengan AIFIS (American Institute for Indonesian Studies), pada hari Kamis, 18 September 2014 di UIN Sunan Kalijaga. Hilman Latief adalah alumnus Western Michigan University, Amerika, dan Utreech University, Belanda, yang kini menjadi Kepala Lembaga Penelitian, Publikasi, dan Pengabdian Masyarakat (LP3M), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Dalam kesempatan tersebut, Hilman menjelaskan beberapa manfaat bagi akademisi, dosen, dan peneliti untuk mengembangkan
roadmap penelitian, yaitu penelitian individual lebih terarah; potensi dosen dan orientasi program studi (jurusan) bisa diselaraskan; kesesuaian roadmap individu, prodi dan universitas bisa terbaca; serta mencetak para spesialist atau pakar di bidang yang khusus.
Lebih lanjut, Hilman menyampaikan bahwa dalam penyusunan roadmap penelitian baik untuk individu, program studi, fakultas maupun universitas perlu melihat kembali topik-topik penelitian yang sudah dan sedang diteliti. Selanjutnya, sangat penting untuk menentukan topik-topik penelitian pada masa yang akan datang sebagai bentuk pengembangan dari topik-topik penelitian yang sudah diteliti. Dengan mengembangkan roadmap penelitian, bagi seorang individu dosen atau peneliti akan terbantu dalam membangun suatu kepakaran atau spesialisasi dalam suatu topik yang menjadi minat penelitiannya.

Anti Korupsi Bagian dari Kurikulum Pramuka

WM Jakarta—Pendidikan anti korupsi merupakan bagian dari kurikulum Praja Muda Karana (Pramuka) yang disampaikan kepada anak didik melalui pendidikan karakter, yakni dalam aktivitas dan kegiatan kepramukaan. Demikian disampaikan Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka, Adhyaksa Dault, Jum’at (12/9).

Dalam mengkampanyekan gerakan anti korupsi, Kwartir Nasional Gerakan Pramuka hari menggelar acara diskusi Pramuka Expert Forum, di Aula Pramuka, Gambir, Jakarta. Acara ini diharapkan menjadi ajang curah pendapat antara para pakar/tokoh dan Gerakan Pramuka dalam rangka pencegahan korupsi di Indonesia.

“Sudah seharusnya pencegahan korupsi menjadi bagian dari pendidikan Gerakan Pramuka. Sebab dari sinilah muncul tinas-tunas dan pemimpin bangsa kita kelak,” kata Adhyaksa.

Lebih lanjut mantan Menpora ini menjelaskan bahwa Gerakan Pramuka akan menjadi lini terdepan pencegahan korupsi di Indonesia. Wajib hukumnya. Ini sudah amanat negara, Tri Satya dan Dasa Dharma yang harus ditunaikan oleh semua anggota Pramuka sebagai tunas bangsa, pemimpin dunia di masa depan, tegas Adhyaksa .

Tri Satya dan Dasa Dharma Pramuka sudah menegaskan komitmen kejujuran, patriotis, cinta tanah air, bela negara, patriot bangsa, bangga dengan negeri sendiri, dan peduli kepentingan nasional. “Nilai-nilai Tri Satya maupun Dasa Dharma Pramuka ini dipegang teguh oleh anggota Pramuka,” ujarnya.

Kasus-kasus korupsi telah banyak menyeret pimpinan Kementerian/Lembaga maupun partai politik. Tren menunjukkan bahwa skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia versi Transparency International meningkat dalam 5 tahun terakhir seiring dengan semakin aktifnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengadakan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan terhadap kasus-kasus korupsi yang melibatkan para penyelenggara Negara.

Acara diskusi Pramuka Expert Forum ini menghadirkan narasumber antara lain, Busro Muqoddas (Wakil Ketua KPK), Prof. Dr. Alois Nugroho (Guru Besar Unika Atma Jaya), Asep Rahmat Fajar, SH, MA (Peneliti), Ine Febrianti (Andalan Nasional bidang Perencanaan, Pengembangan dan Kerjasama (Renbangma).

Wakil Ketua Perencanaa, Pengembangan dan Kerjasama (Renbangma) Kwarnas Pramuka, Marbawie A. Katon, M. Si. Menyatakan bahwa hasil diskusi akan didokumentasikan oleh Gerakan Pramuka bersama-sama dengan Pramuka Expert Forum (PEF). “Kemudian kita jadikan sebagai bagian dari pemikiran strategis Gerakan Pramuka, tandasnya


Marbawi berharap Pramuka Expert Forum ini menjadi kontribusi yang bermanfaat dari Gerakan Pramuka terhadap berbagai masalah berbangsa dan bernegara, baik di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, maupun keamanan. *)

Indonesia Music and Mission Festival 2014

Indonesia Music and Mission Festival 2014
Kemah Musik Sosial 2014
Apakah para remaja tahu bahwa ternyata kawan-kawan difabel ingin sekali berfoto selfi bareng teman mereka yang ‘normal’. Bahwa alasannya karena selama ini mereka merasa tak punya sahabat yang non difabel? Foto selfi membuat mereka merasa punya sahabat! Ini adalah pertanyaan yang terserak di tengah hiruk-pikuk para remaja Indonesia yang tengah dilanda demam foto selfi. 
Tak hanya remaja, bahkan tak banyak yang tahu bahwa judul buku baru yang terbit di Indonesia sebanyak 1.500 buku per tahun, berbanding terbalik dengan buku untuk para tunanetra yang cuma 80 buku setiap tahunnya? Kabar baiknya, kita bisa ikut serta membantu memperbanyak buku untuk kawan-kawan difabel! Bagaimana caranya?
Bagaimana pula bentuk bintang, kedudukan bumi di jagat raya, hingga kesadaran eksis remaja di tempat mereka hidup, bisa dipahami lewat astronomi-- melalui peneropongan bintang? Dan, apakah para remaja tahu bahwa banyak pilihan menjalani hidup, salah satunya melalui kewirausahaan sosial? Apakah kita mampu mengubah dunia menjadi tempat tinggal bersama yang lebih baik… 
Pertanyaan seperti inilah yang ingin dijawab oleh kegiatan Indonesia Music and Mission Festival (IMMF) 2014. Kemah Musik Sosial yang dilakukan secara bersama-sama di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta, ini memadukan tiga kegiatan utama: perkemahan remaja, musik, dan misi sosial. Ide dasarnya berangkat dari ide kemah budaya-- ingat Kemah Kaum Urakan, WS Rendra di pantai Parang Tritis, Yogyakarta pada tahun ‘70-an? Pertimbangannya: musik dan remaja sangat dekat, musik menjadi daya tarik remaja untuk berkumpul. Cara kumpulnya dengan kemah bersama. Sharing (berbagi)-nya dengan para inspirator dunia dan Indonesia, serta kelompok atau perorangan  yang sudah melakukan perubahan.  
Event unik ini tak hanya dihadiri para tokoh yang sudah lama malang melintang dalam kegiatan sosial di tanah air seperti Bambang Ismawan (pendiri Bina Desa & Bina Swadaya) Felia Salim & Alissa Wahid, namun juga ‘inspirator dunia’ seperti Prof. Muhammad Yunus, penerima hadiah Nobel Perdamaian 2006 & pendiri Bank Kaum Miskin (Grameen Bank) Juga ada Benjamin Quinones (Filipina, tokoh penggerak Social Solidarity Economy) serta Prof. Tom Kosnik (Stanford University’s Entrepreneurship Centre), 
Artis dan musisi yang inspiratif, seperti Glenn Fredly, Maudy Ayunda (yang berkampanye pembuatan buku untuk difabel),  sutradara film Nia dinata, hingga politisi muda Budiman Soedjatmiko. Selain itu ada juga Lorong Boys (Singapura), dan fasilitator drum circle termuda asal Malaysia, Rhonwyn Hagedorn.
Beragam komunitas unik yang turut serta dalam Festival,di antaranya adalah Komunitas Difabel, Komunitas Pecinta Astronomi, Komunitas Open IT (Onno W Purbo) Rumah Baca serta TurunTangan.org   
Acara IMMF 2014 diselenggarakan oleh Sinergi Indonesia pada 12 - 14 September 2014 di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta. Kemah Musik Sosial 2014 bertujuan untuk menyiapkan generasi muda menuju 100 tahun Indonesia Merdeka.
== 
Rangkaian Program IMMF 2014 akan memberi pengalaman langsung kepada generasi muda dalam memberi perhatian kepada berbagai permasalahan dan tantangan bangsa:

§  Youth Camp, dua malam (12-14 September 2014). Memiliki berbagai jenis kompetisi dan workshop terkait science, seni, budaya, kewirausahaan sosial, hingga kepemimpinan, yang dapat dipilih oleh peserta Youth Camp.
  • Mission Festival, tiga hari (12-14 September 2014). Menjadi sarana bagi generasi muda untuk mengenal berbagai inisiatif penanggulangan masalah sosial dalam bentuk kelembagaan, gerakan sosial, Social Business, Kewirausahaan Sosial, hingga CSR (Corporate Social Responsibilty). 
  • ICYSE-- International Conference on Young Social Entrepreneurship  (13 September 2014). Berkumpulnya generasi muda untuk membahas bersama Kewirausahaan Sosial sebagai alternatif strategi mengatasi kemiskinan dan membangun keberdayaan masyarakat yang berkeadilan. 

  • Music and Mission Big Bang Stage (13 September 2014 malam). Perhelatan kolaborasi antara musik dan misi-misi sosial yang menghadirkan pembicara dan musisi yang inspiratif bagi kaum muda.
Acara ini diikuti oleh Ribuan Peserta dari 12 Negara seperti Filipina, Singapura, Malaysia, Korea, Jepang, New Zealand, Kamboja, Australia, India, Komunitas Bangladesh, Nigeria. Namun karena Nigeria sedang dilanda Demam Ebola, maka Nigeria tidak diikutsertakan.
 
==

Tentang Sinergi Indonesia:

Sinergi Indonesia adalah lembaga yang didedikasikan untuk menanggulangi kemiskinan, menumbuhkan kemandirian, dan menaikkan taraf hidup masyarakat secara berkelanjutan. Mensinergikan berbagai elemen dan kekuatan yang sudah ada dan telah berkembang dalam masyarakat. Sinergi ini bermaksud untuk menanggulangi kemiskinan dan meningkatkan keberdayaan masyarakat secara multi dimensional, komprehensif & berkelanjutan.

Sinergi Indonesia berfungsi sebagai perekat (gluing function) dan sebagai system integrator. Kemudian, menginisiasi upaya bersama, bahu membahu menyusun strategi, dan bekerja saling melengkapi, agar penanggulangan kemiskinan dapat dilaksanakan secara komprehensif.
Sinergi Indonesia juga melihat peran penting Universitas atau lembaga pendidikan lainnya di berbagai daerah, untuk menjadi poros sinergi berbagai kekuatan warga di area masing-masing. 
Kompetensi Sinergi Indonesia yang secara komprehensif menjadi kekuatan sinergis:
1. Integrated rural and urban poverty reduction program.
2. Mapping innovation and change management.
3. Impact management program.

4. Comprehensive and synergize CSR and CSV management.

Bule Hunter Nyaris Terjebak Trafficking

WM JakartaBule hunter alias pemburu bule merupakan orang—baik laki-laki maupun perempuan—yang melakukan pengejaran terhadap orang kulit putih baik dari Amerika, Australia maupun Eropa. Pengejaran yang dimaksud adalah untuk menjadikan Sang Bule sebagai pendamping hidup, baik sebagai pacar, suami, klien dalam bisnis prostitusi, ataupun teman kencan saja.

Apa istimewanya bule?. Fisik, isi dompet hingga kehidupan seks dikupas gamblang dalam buku Bule Hunter, yang ditulis Elisabeth Oktofani, wartawan salah satu media outlet yang sedang berkembang di Indonesia. Sebelumya, Fani juga pernah menjadi reporter di Jakarta Globe, dan kontributor lepas di Khabar Southeast Asia.

Dengan latar belakang sebagai jurnalis, Fani menuliskan kisah-kisah para perempuan pemburu bule dengan lugas dan berdasarkan fakta, wawancara serta investigasi yang ditemuinya di lapangan.

Cetta Padma Rini, rela meninggalkan Henry suaminya yang sangat mencintainya dan memanjakannya dengan uang untuk menerima tawaran Martin, mantan pacarnya yang berasal dari Jerman. Martin menawarkan uang sebesar 5,000 euro jika Cetta dapat mengirimkan satu perempuan Indonesia untuk dijadikan sebagai pelacur di Eropa.

Keadaan membuat Cetta nyaris terjerumus dalam trafficking karena Henry suaminya tiba-tiba saja bangkrut dan mengungkit-ungkit uang pemberiannya kepada Cetta. Marriage life with no sex, ini juga yang  mendorong Cetta terbang ke Bangkok, Thailand menemui Martin dan memulai bisnisnya human trafficking.

Moral issue Cetta diuji, terlebih dirinya ingat dengan seorang pelacur bernama Teh Nurmali yang menjual dirinya kepada bule semata-mata hanya karena mencari uang untuk membiayai anak-anaknya.

Tidak hanya Cetta dan Teh Nurmali, buku ini juga bercerita tentang perempuan-perempuan pemburu bule yang tidak jarang harus menghadapi kenyataan pahit karena kehidupan yang tidak seindah dalam angannya.

“Beberapa teman saya mengatakan bahwa alasan mereka memilih bule karena sebagai perempuan Indonesia yang berkulit cokelat, kerempeng dan rambut keriting, mereka merasa susah mencari pacar orang Indonesia. Kebanyakan laki-laki Indonesia sudah menjadi korban iklan dimana perempuan cantik itu harus berkulit putih atau kuning langsat, ramping, dan berambut lurus panjang,” tutur Fani.

Sebaliknya, lanjut dia, orang-orang dari Ras Kaukasoid justru menganggap bahwa perempuan Indonesia sangat eksotik dengan kulit mereka. “Saya sendiri dulu waktu masih SD dan SMP kerap diejek dengan sebutan Amazon karena rambut keriting dan kulit cokelat saya,” tukasnya.

Rencananya, buku yang juga menceritakan pengalaman pribadinya yang menikah dengan laki-laki dari Ras Kaukasoid akan dilaunching pada Rabu, 10 September 2014 di Reading Room Jl. Kemang Timur No.57 Jakarta Pukul 14.30 – 16.30 WIB. Dalam acara tersebut akan hadir Myra Diarsi (aktivis Perempuan).

Buku setebal 311 halaman ini diterbitkan renebook, penerbit sejumlah buku yang laris dipasaran antara lain “Allah, Liberty and Love” (Irshad Manji), Puisi Esai “Atas Nama Cinta” (Denny JA), “Menghadang Negara Gagal (Adhyaksa Dault), dan lain-lain. *)

Pertengkaran Berujung Gantung Diri, Mahasiswa di Semarang

VIVAnews - Seorang mahasiswa di Semarang, Adrian Dwi Pratama, 20, memilih mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di dapur indekos, Senin, 1 September 2014, sekitar pukul 15. 05 WIB. Pemuda malang itu diketahui merupakan mahasiswa Univesitas PGRI Semarang.

Diceritakan salah seorang saksi mata yang juga tetangga indekos Adrian, Yadi, korban bersama pacarnya sempat terlibat adu mulut di depan indekos. Bahkan suaranya sempat keras karena suatu permasalahan hubungan.

"Korban sempat menampar pacarnya, seperti cemburu buta," kata dia.

Akibat pertengkaran tersebut, korban langsung meninggalkan sang kekasih dan masuk ke dalam indekos. Sementara S, pacarnya masih menunggu di depan indekos.

Sekitar pukul 15.05 WIB, S mencoba masuk ke dalam indekos korban. Namun saat sampai di dapur indekos, sang pacar justru telah tergantung tergantung dengan seutas tali dan lidah terjulur. Melihat hal itu, S jatuh pingsan karena tak kuasa melihat Adrian mengakhiri hidupnya dengan cara mengenaskan.

"Sepertinya pacar korban saking syoknya, hingga akhirnya jatuh pingsan," ucap Yadi.

Warga yang mengetahui kejadian tersebut langsung melapor ke Polsek Gayamsari, Polrestabes Semarang, untuk dilakukan identifikasi. Saat ini, mayat mahasiswa semester IV itu sudah dibawa ke kamar jenazah RSUP Dr Kariyadi, Semarang, untuk dilakukan autopsi.

Polsek Gayamsari sudah menghubungi orangtua korban terkait kematian putra mereka. Sebelum gantung diri, korban sempat menulis pesan terakhir yang ditujukan kepada teman-temannya. Surat itu berisi bahwa korban telah jenuh dengan kehidupan dan meminta agar teman-teman kuliahnya bisa menjaga pacarnya dengan baik. (adi)

Sumber - http://m.news.viva.co.id/news/read/534098-usai-bertengkar-dengan-pacar--mahasiswa-di-semarang-gantung-diri

Kajian